jika menulis adalah sebuah Hobi, maka tak perlu alasan lagi mengapa saya menulis

Sabtu, 01 Desember 2018

Cerita Tes Seleksi Masuk Universitas Pertahanan (unhan)


Buat temen-temen yang Belum tahu Universitas Pertahanan(Unhan) itu dimana ,tempat itu ada di Kawasan IPSC (Indonesia Peace and Security Center), Sentul, Kab.Bogor Indonesia. Cari di Google Maps, pasti ketemu. Sekitar 50km Dari rumah saya Cililitan, Jaktim. Saya pernah coba pesen Go-jek ke Unhan, tapi aplikasinya bilang,”Biar Driver tidak masuk angin, jarak maksimal kami 25 km, ya.” -.-‘
BTW, saya alumni mahasiswa magister S2 Universitas Pertahanan, program studi Teknologi Penginderaan, Fakultas Teknologi Pertahanan.
Dulu saya juga pernah coba pesen Go-jek, Set lokasi jemput Jakarta, lokasi tujuan ‘Unsoed’, ternyata juga gak bisa. Nah bagi temen-temen yang gak tahu Unsoed dimana, Unsoed itu di Purwokerto Jateng.  Jadi buat temen-temen yang ingin mudik dari Jakarta ke Jateng, gausah coba pesen pake aplikasi Go-jek, pasti gak bisa. Tapi kalau dari Jateng ke Jakarta, gak tau pake gojek bisa apa ngak?

Akhirnya saya putuskan untuk berpetualang sendirian menggunakan motor. Pastinya Ke Unhan bukan ke Unsoed. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 setengah jam.....

Unhan itu kan Universitas berbasis bela negara, 
sebelum lanjut ke cerita masuk Unhan, saya mau promosi channel youtube tentang animasi yang membahas apa itu bela negara dan sejarah bela negara. Kalo kamu mau masuk Unhan, kamu juga harus paham apa itu bela negara. Kunjungi channel saya. Jangan lupa subscribe dan share, mungkin suatu hari saya akan bahas tentang unhan dalam channel tersebut :) .

Kalo mau tonton, klik DISINI

Lanjut yah. Bersadarkan PengalamanTes/Seleksi di Unhan berikut merupakan tahapan tes demi tes masuk Unhan. Semoga ini juga jadi tips untuk lolos beasiswa unversitas pertahanan.

TAHAP 1/4: Seleksi Administrasi
Tekadkan untuk fokus masuk Unhan.
26 November 2017-Unsoed Purwokerto, masa perkuliahan s1 sudah selesai.  Yudisium juga sudah terlaksana 5 hari yang lalu. Tinggal tunggu wisuda, ijazah,transkrip nilai dsb. Tapi Satu hal yang masih mengganjal, nanti kalau sudah lulus mau kemana? Ortu nyaranin jadi PNS karna PNS masa tuanya dijamin. Tapi masih kurang sreg juga kalo langsung tes CPNS. Inginnya saya kerja di luar kota dimana aja gitu. Waktu itu belum kepikiran S2, kalaupun s2 pengennya cari beasiswa (S1 udah bebanin ortu, masa S2 pake duit ortu lagi). Beasiswa LPDP? Pernah sempet baca dan nonton youtube tentang beasiswa LPDP. Menarik. Tapi waktu itu belum dibuka pendaftaran beasiswa LPDP.  Terus juga ‘katanya’ Tes Toefl syarat beasiswa LPDP memakan biaya yang gak murah. Hal tersebut membuat saya mengurungkan niat untuk ikutan beasiswa LPDP. Mendingan duitnya untuk beli Iphone, atau Xiaomi 2 biji.
Sampai akhirnya saya melihat info pengumuman S2 Unhan di  grup WA. Saya yang awalnya gak tau Unhan Itu apa dan dimana. Dan dari semua pengumuman besasiswa S2 maupun penngumuman lowongan kerja, kayaknya paling sreg dan paling ideal buat saya adalah beasiswa Unhan. Mungkin karena dasarnya, beasiswa penuh.
Mulai dari gak ada biaya semester, disediain asrama, makan 3x sehari, uang saku perbulan. bahkan thesisnyapun dibayarin sama Unhan. Belum lagi Kuliah Kerja Dalam Negeri dan Kuliah Kerja Luar Negeri yang gratis dan dapat uang jajan lagi.
Ada beasiswa s2,tapi luar negeri. Saya gak percaya  dengan kapasitas saya yang belum kuat. Banyak faktor, mulai bahasa, makanan, tekanan, dan yang paling utama adalah kekuatan otak yang harus bersaing.
Di Unhan seleksinyapun gratis. Ada 4 tahap seleksi,
1. seleksi administrasi,
2. TOEFL & TPA
3. Psikotes,
4. wawancara,
Semua ditanggung Unhan.  Yang makan biaya mungkin waktu melengkapi persyaratan di awal registrasi kayak buat surat sehat anti tato bebas narkoba di RS pemerintahan, makan biaya +- 300 rb.
Saya Hubungi orang tua kalau saya akan mencoba masuk Unhan, ada komando dari orang tua untuk maju terus pantang mundur, tanpa ragu saya tekadkan untuk ikut tes Unhan. Saya melakukan pendaftaran Calon Maba di Website UNHAN. Saya lihat prodi-prodi yang tersedia di Unhan. Dari semua Prodi yang tersedia,  akhirnya hati saya menambatkan pada Prodi Teknologi Penginderaan. Apa itu teknologi penginderaan? Kenapa saya memilih teknologi penginderaan? Wiss kelamaan kalau cerita itu, inti ceritanyakan tentang lika-liku masuk Unhan.
Langkah pertama yaitu mengumpulkan berkas untuk pendaftaran online. Syarat yang harus dipenuhi pada proses registrasi yaitu CV, akreditasi jurusan, FC ijazah(legalisir), FC transkrip nilai(legalisir),  Paper Persepsi prodi yang kita pilih dalam bahasa inggris, SKCK, FC akta kelahiran(legalisir), FC KTP(legalisir), FC KK(legalisir), Surat Rekomendasi dari Dekan atau Kajur S1(buat fresh graduate), Surat Keterangan sehat, surat keterangan bebas narkoba, Surat bebas Tato yang wajib dari rumah sakit Pemerintah dan Foto Berjas hitam. Semua berkas di Scan untuk di upload saat registrasi online dan semua berkas rangkap  4 dibawa saat verifikasi nanti.
Pertama-tama yang harus saya lakukan, yaitu mengumpulkan berkas syarat ‘wisuda’, iya wisuda. Masa kita kumpulin berkas masuk Unhan tapi lupa kumpulin berkas wisuda? Kan lucu kalo kita masuk Unhan tapi S1 belum wisuda. Masa wisuda s1 digabung sama s2, lalu sekalian sama s3?
Wisuda lewat, saat orang-orang kebanyakan berfikir abis wisuda kapan nikah, saya cuma berfikir bagaimana cara membagi waktu antara belajar toefl dan mengumpulkan berkas.
 Susun roadmap yang akan saya lakukan. Pertama-tama saya membuat CV.  Saya yang sebelumnya sudah punya CV, saya edit lagi beberapa informasi yang perlu ditambahkan.
Selanjutnya, karna di Unhan terdapat tes TPA d Toefl, otomatis saya harus belajar giat lagi dari sekarang  TPA dan TOEFL agar dapat nilai maksimal. Terakhir tes, nilai TOEfl saya 417.  Waktu itu cuma sempet belajar 15 menit. Nilai yang cukup untuk syarat lulus dari Unsoed, tapi sepertinya masih jauh dari standar lolos tes di Unhan. Maka dari itu.saya harus belajar lebih tekun.
Saya beli buku TOEFL yang tebelnya ampe lebih dari 650 halaman di gramedia, di Mall deket alun-alun Purwokerto, harganya 150 rb. Menurut saya termasuk murah, karena buku ini everlasting, sampai 30 tahun kemudian juga buku ini juga bisa berguna, terutama bagian grammar. Karena perkembangan bahasa Ingris tidak seperti perkembangan teknologi kan. Kecuali ada evolusi bahasa misal Inggris dijajah Arab Saudi mengakibatkan perubahan bahasa Internasional, lalu toeflpun berevolusi pakai bahasa Arab..
Walau tes Toeflnya 2,5 bulan lagi, saya persiapkan dari sekarang. Saya buat rencana belajar selama 2,5 bulan kedepan. Mulai dari listening sampai reading ditambah menghafal kosakata yang belum saya tahu. Saya motivasi diri sendiri. Bahkan ketika malam hari,  di sekretari PSHT Unsoed. Jadwalnya latihan, tapi saya tinggalkan untuk belajar grammar. Datang cuma untuk belajar grammar,dan pastinya banyak aja sedulur-sedulur yang ganggu.
 Selain itu, saya juga harus mengurus beberapa berkas administrasi, seperti rekomendasi dari Dekan Fmipa atau KaJur Fisika. Akhirnya saya memilih ke Kajur Fisika karena lebih mudah alurnya. Kajur Fisika Unsoed, Pak Wahyu Widanarto, baru saja meraih gelar Profesor dan menjadi guru besar fisika Unsoed yang pertama, tapi beliau tidak sombong dan baik sekali. 
Tanda tangan telah didapat, lanjut urus fotocopy KTP, KK, Akta kelahiran, semuanya telah diegalisir. Lalu juga mengurus SKCK, semuanya harus diurus di tempat domisili saya berada. Artinya dari Purwokerto saya harus pulang ke Jakarta sekalian bawa buku TOEFL. Legalisir fotocopy KTP, KK, akta kelahiran ditempat yang berbeda-beda, lalu membuat SKCK dimana saya harus ke tempat SKCK jam 5 subuh untuk daftar lalu kembali lagi jam 8.   Di Jakarta, saya juga membuat Surat keterangan sehat bebas narkoba di RS. POLRI yang memakan biaya 300 ribu.  Untuk mengurus semua administrasi ini memang butuh perjuangan fisik yang lebih.  Perpindahan dari tempat satu ke tempat yang lain, belum lagi antri harus sabar menunggu. Setelah semuanya telah diurus, langkah selanjutnya balik ke Purwokerto lagi untuk mengambil ijazah sekalian persiapan keluar dari kos.  Ini menjadi perpindahan ke Purwokerto yang terakhir.
Saya  di ujung senja Purwokerto. Mungkin itulah ungkapan yang saya rasakan untuk mengungkapkan bahwa sekitar 1 bulan lagi saya meninggalkan Purwokerto dalam waktu yang lama. Yudisium, wisuda, telah terlewat, hanya tinggal 1, yaitu mengambil ijazah dan fotocopy legalisir.
Sambil menunggu ijazah turun, sambil belajar TOEFL, saya  buat paper dalam bahasa inggris dengan topik persepsi kita tentang prodi  Unhan yang dipilih maksimal 2 halaman. Langkah awal yaitu searching dulu hal-hal teknis penginderaan di E-book,jurnal, skripsi, maupun thesis. Saya susun paper, mulai dari perkenalan diri saya, lalu mengapa saya pilih prodi Teknologi Penginderaan, saya jelaskan apa itu teknologi penginderaan, dan ditutup tentang persepsi saya sendiri bagaimana kuliah di prodi tersebut. Awalnya saya buat dalam bahasa Indonesia, lalu di ubah kedalam Bahasa inggris. Lalu CV yang pernah saya buat sebelum wisuda juga saya perbaiki lagi layout maupun isinya. Kalau CV, jangan buat standar. Layout CV bisa searching aja  di internet banyak yang bagus.
Ijzah beserta fotocopynya yang telah dilegalisir di pertengahan Januari 2018.Itu artinya saya tidak punya hajat apa-apa lagi disini.  Semua urusan telah selesai, saatnya saya kembali kampung halaman, Jakarta.
Semua berkas telah lengkap dan semua saya scan. Lalu Upload berkas 1 demi 1.  Alhamdulillah registrasi online telah selesai, sekarang tinggal tunggu pengumuman lolos atau tidak menuju tes selanjutnya yaitu tes TOEFL dan TPA

TAHAP 2/4: Verifikasi Administrasi, Tes Toefl, Tes TPA
Di Jakarta,saya lanjutkan belajar TOEFLnya. Terlalu berfokus pada TOEFL, jangan lupakan TPA yang gak boleh dianggap remeh. Akhirnya saya putuskan beli buku TPA, waktu itu nitip adek di gramedia. Harganya 135 rb kalau gak salah. Dan buku ini lagi everlasting, bisa dipakai kalau mau tes lagi misalnya tes CPNS.
Jangan pernah meremehkan tes TPA.  Betul jika Tes Potensi Akademik (TPA) hanyalah tes potensi kita di bidang akademik, jadi hanyalah materi-materi  dasar yang akan disajikan. Tapi semakin kita sering belajar TPA, maka otak kita akan semakin terbiasa, dan berdampak meningkatkan kecepatan mengerjakan TPA.  Pada awal latihan soal, saya yang tidak bisa menyelesaikan 40 soal dalam 25 menit, semakin sering belajar TPA, semakin cepat pula menyelesaikan sebuah persoalan.


2,5 bulan berlalu, pengumuman peserta yang lolos seleksi administrasipun diumumkan, dan alhamdulillah saya lolos seleksi administrasi.
Keesokan harinya yaitu hal yang paling ditunggu-tunggu, tes TOEFL. Ini dia hari yang selalu saya fikirkan selama 2,5 bulan ini. Hasil menahan jengahnya belajar 2,5 bulan akan terlihat selama kurang lebih 2 jam tes. Iya belajar 2,5 bulan betul-betul jengah, mengapa?karena adanya tekanan dan berharap tinggi agar hasil ujian memuaskan. Malam sebelum tes Toefl, saya sedikit latihan ringan mengenai listening dan sedikit baca-baca grammar.
Sedikit pengalaman tes TOEFL, tes TOEFL sama seperti tes TOEFL pada umunya. Bukan soalnya, tapi formasi soalnya, yaitu 40 listening, 25  grammar/written expression, 50 soal reading. Awalnya saya kurang tenang karna dibawah tekanan agar dapat nilai maksimal, menyadari bahwa butuh ketenangan mengerjakan soal terutama bagian Listening.
Pengalaman waktu tes di Unhan sana, introduction listeningnya rasanya lama banget. Saya yang bengong sambil melihat isi soal, tiba-tiba sudah soal nomor 3 aja.  Percayalah, 1 soal terlewat aja udah bisa membuat mental jatuh. Apalagi 3 soal, tinggal dikali 3 aja.
Tapi waktu itu saya sudah belajar teknik recovery mental. Yaitu teknik yang saya ciptakan sendiri lewat pengalamanan (gaya). Maksudnya, cara untuk mengembalikan mental dengan cara memberikan sugesti dalam hati. Sugestinya “Sudah biarkan lewat, fokus ke soal berikutnya, mental yg jatuh tidak bisa buat nilai maksimal”
Saya masukkan sugesti itu, tapi resikonya saya harus mengorbankan 2 soal listening, artinya saya baru normal menjawab soal dari mulai nomor 6. Yah....
Untuk soal grammar/structure/written expression,  25 soal tapi bobotnya juga besar. Paling banyak jebakannya. Lalu terakhir 50 soal yang paling melehkan, reading. Kalo reading, yang terpenting itu baca dulu soalnya, baru cari jawabannya di naskah. Kalau menerjemahkan keseluruhan topik naskah keseluruhan bakalan abis waktunya akibat kelamaan baca naskah. Itulah yang dijelaskan oleh guru Bahasa Inggris saya dulu.
Dan gak terasa, terasa, waktu tes toeflpun habis. Sangking gak terasanya, masih ada soal yang belum diisi. Wis langsung diisi aja B semua.
Toefl selesai, Tpa menunggu. Sebelum tes tpa, seperti biasa belajar ringan dan santai malam harinya. Saat mengerjakan TPA, alhamdulillah lancar jaya. Soalnya mulai dari sinonim, antonim, sampai tes numerik dan logika.  Terutama tes sinonim dan antonim, gak sia-sia menghapal kata-kata yang ada di buku, hampir semuanya keluar. Begitupun tes numerik yang paling menyita waktu, dimana karena telah terbiasa, jadi saya merasa lebih enteng saja mengerjakannya, sama juga seperti bagian tes logika.
Tes TOEFLTPA selesai, alhamdulillah ada terasa lega aja di hati. Yang biasanya minimal perhari belajar 4 jam, sekarang sudah gak belajar seperti itu lagi. Liburan dulu dan tinggal tunggu pengumuman.
TAHAP 3/4: Tes Psikologi
Kapan pengumuman kelulusan tes TPA/Toefl? Masih sekitar 3 setengah bulan lagi. Karena pengumuman kelulusan masih lama, dari pada nganggur lebih baik cari-cari kerja di jobstreet. Awalnya ada ada temen kasih sharing lowongan kerja sebagai guru les di deket UI. Saya coba lamar jadi guru matematika+bahasa inggris.
Pertama tes  Soal UN yang banyak, berhasil lolos tes pertama. Lalu tes kedua yaitu tes mikro teaching, jadi ngajarin guru lesnya. Karena belum ada persiapan sama sekali masalah mikro teaching dan belum ada pengalaman ngajar, akhirnya saya gagal tes mikro teaching. Pulang dengan muka melas-melas tapi tegar.
Lalu ada pekerjaan di jobstreet, pekerjaan 3d & Graphic Designer. Walaupun basic saya fisika jauh hubunganna dengan 3d designer, tapi punya bisa lah sedikit-sedikit 3d designer. Ada banyak lowongan 3d designer, saya apply pekerjaan di beberapa perusahaan. Besoknya, saya lagi maen PS, ada yang nelpon saya
“siang, apa betul saudara hilman putra, yang melamar di PT.....?”
“ya betul, ada yang bisa saya bantu?”
”Saya liat CV anda, besok bisa datang ke kantor?”
“Oh ya Insya Allah, kalau boleh tau jam berapa? Terus alamatnya dimana?”
“nanti saya WA, ada WA kan?”
“OH ya ada”
Akhirnya besoknya saya datang interview, singkat cerita saya masuk pekerjaan itu. Kerja lembur bagai kuda bangun subuh sampai rumah abis magrib. Walaupun kerja disini bukan tujuan utama saya, tapi saya berusaha komitmen untuk kerja dengan baik.
Tiga bulan terlewat tanpa terasa, akhirnya pengumuman Tes toefl &  TPA keluar jumat sore. Dan alhamdulillah saya lolos Tes Toefl/TPA dan berhak melaju ke tahap selanjutnya, psikotes. Empat hari sebelum psikotes yang saya lakukan adalah,ikut dauroh+pesantren kilat, haha. Kebetulan waktu itu bulan puasa, terus diajak temen SMA pesantren kilat berangkat jumat malem kembali minggu malem. Disana saya banyak-banyak doa di waktu mustajab, misal di waktu menjelang buka puasa, waktu antara adzan dan iqomah, waktu sepertiga malam waktu sholat tahajjud dan perbanyak dzikir sesuai tuntunan hadist shahih, atau yang diajarkan oleh 4 imam besar (mahzab). Imam Syafi’i ,Imam Maliki,Imam Hanafi, Imam Hambali 
Karna menurut saya, tes psikologis ini persiapannya bukan dengan belajar, tapi kesehatan psikis. Saya berfikirnya yang terpenting persiapan EQ,dimana untuk menunjang EQ, harus ada perbaikan SQ. Karena menurut sya EQ berkaitan dengan SQ, cara perbaikan SQ dengan perbanyak berfikir dan merenung.
Walaupun akhirnya, saya belajar-belajar juga cari contoh soal psikotes di internet.

Hari dimana psikotes dimulai, waktu itu abis sahur, subuh, langsung berangkat dari Jakarta timur menuju sentul bogor.sudah sampai sana, saya masuk gedung Unhan kok sepi, saya liat  jadwal ternyata saya masuk gedung yang salah. Ternyata bukan di Unhanya, tapi di gedung BNPB.  Tes waktu itu tes koran, tes pauli, sama tes pernyataan, tes rencana thesis kita, tes seberapa kita serius masuk Unhan  .Tes dimulai jam 8, selesai jam 2 siang. Otak sampai ‘blemek’ waktu itu. Tak terasa bibir sampai kering, dan pecah-pecah, sobek kulitnya sampai keliatan merah-merah darah.  Untung aja dikasih snack abis selesai tes.  Saya makan snacknya dengan lahap. Sebelum itu, saya pulang dulu, tidur, dan tunggu adzan magrib baru makan snacknya .
Tahap 4/4 :Tes Wawancara  
Tes Wawancara waktu itu dilaksanakan habis lebaran. Ada mungkin 1 bulan lebih dari waktu tes psikologi, lupa-lupa juga. Alhamdulillah tes psikologi lolos, dan berhak ke tahap terakhir, tahap wawancara.Kalau tahap ini lolos, maka saya berhak ikut kader intelektual bela negara, lalu selanjutnya ikut perkuliahan sebagai mahasiswa pascasarjana di Unhan.  Berkas yang perlu dipersiapkan yaitu paper bahasa inggris tentang persepsi prodi yang kita pilih yang sudah dibuat untuk memenuhi syarat administrasi.
Ternyata baru sadar betapa parahnya grammar paper yang saya buat. Ternyata belajar toefl mati-matian ada efeknya juga ya.
Saya belajar mengenai, apa itu unhan, apa visi-misinya. Saya cari apa moto Unhann, Terus namanya juga kampus belanegara, saya cari definisi dari belanegara.  Saya list potensi-potensi pertanyaan yang akan diajukan oleh pewawancara.
Hari wawancarapun dimulai. Wawancara mengantre, dan saya di urutan sekian. Entah mengapa hari ini lebih tegang dari biasanya. Bukan karena takut nervous di depan pewawancara, tapi lebih karena ini merupakan tes terakhir yang menentukan . Kalau tes ini gagal, rasanya sia-sia perjungan dari November 2017 sampai sejauh ini, Juli 2018. Tekanan itu yang mengganggu pemikiran saya.  Saya buat mindset”tenang, karena nervous tidak akan menyelesaikan masalah”setidaknya sedikit membantu.

Lama menunggu antrean, rasa tegang berubah jadi ngantuk. Wawancara sekian ratus calon mahasiswa dibagi 10  kelas (kalau gak salah). Sebenernya gak terlalu banyak antrian pe kelas, paling jadinya per kelas wawancarain sekian calon maba. Tapi Per orang diwawancara kurang lebih 45 menit.  Kelamaan antreannya, akhirnya saya malah pengen buru-buru diwawancara aja biar langsung pulang tidur. Nunggu dari jam 8, akhirnya dapat antrian  jam 11.55.  Yeah akhirnya diwawancara juga... Eh tapi panitia memutuskan untuk ishoma dulu, mulai lagi jam 13.30.
Akhirnya jam 13.30 tepat waktu saya masuk juga ke kelas wawancara. Pewawancara ada tiga orang.  Pewawancara saya yang pertama itu Laksamana, tepatnya laksamana muda. Dimana laksamana itu setingkat Jendral kalau Angkatan darat, tapi kalau angkatan laut sebutannya laksamana. Kalau angkatan laut di Amerika Serikat itu disebut admiral. Dalam sistem pangkat TNI, Laksamana(Angkatan Laut), Jenderal(Angkatan Darat), dan Marsekal(angkatan udara) itu berada tingkatan tertinggi.
 Pewawancara kedua itu kolonel, beliau sekaligus jadi ketua prodi teknologi penginderaan. Lalu pewawancara ketiga itu anonim namanya, lupa hehe.
Pewawancara pertama, pak Lakasamana miuda, baru masuk ruang interview gak tau apa-apa langsung  diomelin sama beliau. Pembawaan beliau tegas-tegas mengarah ke galak.
Oh ya saya masuk ruangan, bukan nyalamin pewawancara, tapi masuk, terus langsung duduk Pertanyaan diajukan beliau, yang bisa saya tangkap,
“apa ISIS?“
“Apa itu HTI?”
“Apa pengertian dari belanegara?”
“Kalau negara kita diserang oleh asing? Apa reaksi kamu?”
“Kenapa gak pilih s2 di Unsoed aja, atau dimana gitu”
Saya jawab jujur, keras, lantang “Karna di Unhan Gratis Pak”
Ohya beliau ternyta juga Dekan Keamanan Nasional, jadi pertanyaan lebih ke arah adakah indikasi kita ikut organsisasi tersebut?
Dan satu pertannyaan yang paling mencengang,”kamu kuat gak kuliah disini! Nanti kalau tidak lulus/DO, ada pengembalian uang beasiswa”
Dan waktu itu saya jawab dengan tegas dan tepat sasaran tapi tidak lupa senyum,”saya sudah mempersiapkan mental pak disini!:):) Saya bisa lewatin tes administrasi sampai tahap ini, karna bersungguh-sungguh akan kuliah sampai lulus! :) :)”
Masuk ke pewawancara kedua, beliau kolonel angkatan udara sekaligus ketua prodi teknologi penginderaan. Wawancara dengan beliau full dengan bahasa inggris.  Intinya beliau bertanya lebih ke wawasan kita apa itu teknologi penginderaan, beliau juga suruh menjelaskan isi paper yang telah kita buat. Saya menjelaskan argumen-argumen  yang saya buat di paper tersebut, apa itu teknologi penginderaan, mengapa saya memilih teknologi penginderaan, apa sih pemanfaatan teknologi penginderaan pada bidang pertahanan. Saya jelaskan semuanya, tapi dalam bahasa inggris. Karena semua pertanyaan beliau dalam bahasa inggris, jadi ya jawabnya pakai bahasa inggris juga.  Eh tapi gak semua pertanyaan bahasa inggris dari beliau saya jawab dengan bahasa Inggris juga, ada yang saya jawab dengan Bahasa Arab. Waktu itu beliau bilang, “Your English Toefl is quite good”, terus saya jawab dengan bahasa Arab, “Alhamdulillah”.
Lalu pewawancara ketiga, yaitu anonim. Beliau menanyakan lebih ke arah basic saya. Mulai latar belakang keluarga, , terus juga belau bertanya pengalaman organisasi kita, suruh cerita tentang prestasi yang pernah dicapai waktu kuliah s1, pernah sakit terakhir kapan, terakir dirawat kapan,”saya jawab waktu umur 4 tahun, waktu itu DBD”,
Ditanya juga punya penyakit bawaan tidak, saya bilang jujur ,’’Punya pak, asma”
“lah kalau kamu kena dingin gimana? Ntar kan  ada kuliah luar negeri?”
“Iya, saya sudah bisa handle biar tidak asma, saya bisa mencegah itu”
Terus juga ditanya apa yang membedakan Unhan dengan Universitas lainnya. DItanya juga apa moto unhan,dan disuruh jabarkan.
Tak terasa wawancarapun selesai, pak dekan sekaligus Laksamana yang tadinya galak akhirnya bisa tersenyum, lalu seperti biasa penutupan wawancara “Ada pertanyaan?”
Saya bertanya”di Unhan ada UKM gak pak atau organisasi mahasiswa gitu?”
“Ada lah! Masa gak ada. Kamu mau masuk BEM,mau demo!?”
“hehe gak pak, saya gak tertarik masuk BEM,disini ada UKM riset pak”
“Ya Ada! Riset ya pasti ada Universitas Pertahanan masa gak ada! Kamu tau gak tri dharma tinggi?”
Entah lupa-atau bener-bener gak tau, yang jelas plong gak bisa jawab.
Wawancara selesai, keluar ruangan. Belum ada pengumuman lolos tes wawancara, suruh ukur baju, ukuran sepatu,topi  jas almamater. Haha. Semoga aja bukan harapan palsu. Kan gak lucu, udah ukur jas almamater tapi gak diterima.
Saya pun pulang, dengan plong. Postitif thingking aja.
Dan seminggu kemudian, pas lagi maen panahan sama temen. Tiba-tiba ada pesan masuk Instagram dari mahasiswa teknologi penginderaan(angkatan sebelumnya), dulu sebelum wawancara sempet tanya-tanya prospek teknolgi penginderaan. “Hilman, kamu lolos ya, selamat ya”
Saya langsung buka website, dan alhamdulillah ternyata betul-betul diterima.
Udah itu aja cerita singkat saya menuju Unhan. Dan berhak ikut diksar belanegara 1 bulan lamanya. Lalu memulai perkuliahan setelah itu.
Di unhan kita gak bisa sambi dengan kerja, karena full.  Jadi hanya ada 2 kemungkinan, resign atau buat surat izin belajar(buat CPNS) biasanya.
Bagaimana kehidupan di kampus ini? Nanti aja ceritanya, tapi gak janji buat cerita......

Share:

Minggu, 22 Oktober 2017

Penyesalann Terbesar

“Komisariat PSHT Unsoed, banyak kenangan tercipta disana. Apa kenangan yang paling membekas di hati? Apakah pada saat saya bisa meraih prestasi? Bukan! Pada saat saya menjadi ketua umum PSHT Unsoed? Atau saat saya telah menjadi warga/pelatih?  Bukan juga.  Meraih prestasi, menjadi ketua umum ataupun menjadi warga adalah kenangan manis yang membekas. Tapi menurut perasaan saya, kenangan paling membekas ada dua, yang pertama pada saat saya berhasil mensahkan siswa menjadi warga baru. Dan yang kedua, terjadi pada saat saya masih siswa, tepatnya pada saat sabuk prapolos, menjadi satu-satunya kisah asmara saya di PSHT Unsoed, hehe.”

Disana, PSHT Unsoed saya temukan seseorang. Seseorang yang membuat saya dapat melupakan orang yang saya suka waktu SMA. Seseorang yang akhirnya pergi, dan tidak akan bisa saya miliki. Sebenarnya, saya belum dapat izin untuk bercerita hal ini padanya. Jadi saya inisial saja W. Kalau sudah mendapat izin, baru sebut nama panjangnya saja. Sebenernya sekarang (18 Agustus 2018) sudah tau deng orangnya.

Kisah berawal saat semester 1,  pada saat baru 2 bulan latihan di UKM PSHT. Pukul 19.30 tepat, saya menuju ke pendopo PKM tempat biasa saya latihan silat. Di pendopo itu kami berdiri sambil menunggu pelatih. Saya tengokan wajah saya  agak serong ke kanan, saya terfokus pada seorang wanita yang sedang terdiam di tengah keramaian. Pandangannya fokus ke depan. Parasnya cantik dan imut, membuat saya lama wajahnya. Saya bertanya dalam hati, siapa dia?

Saat sesi perkenalan, ternyata dia bernama W, siswa baru dari Ilmu gizi. Saya menyandang bahwa dia adalah siswa paling cantik waktu itu. Walaupun begitu, saya lupa dengan namanya karena waktu itu saya memang kurang peduli mendengar. Saya bertanya dalam hati, siapa dia, secepat itu pula saya luma dengan namanya.

Keesokan hari, saya membuka facebook, saya melihat ada permintaan pertemanan, dari W. Saya pernah mendengar nama ini, tapi saya kapan ya? Ketika saya buka dan lihat foto profilnya, oh ternyata dia adalah siswa baru itu.  Ternyata namanya W.
Hari demi hari terlewat hingga hari menemukan kami pada latihan berikutnya.Ketika selesai latihan kami memulai perbincangan untuk pertama kalinya. Waktu itu pukul 23.00, sekertariat menjadi saksi saat kami sedang mengambil tas dan berpapasan, lalu dia berkata:
“Hilman, kamu dari fisika ya?”
“Iya. Kenapa?” 
“Gak apa, oya hilman aku tadi SMS kamu pas sore”
“Oh ya? HP gua di kosan jadi belum sempet cek deh”
Dari cara tutur kata bicaranya, saya simpulkan bahwa ia merupakan sosok yang lemah lembut, dengan senyum yang manis. Seseorang yang relatif pendiam jika dalam keramaian.
Dia bergegas pulang sendirian dengan jalan kaki. Sebenernya saya ingin mengantarnya dengan motor saya, tapi saya sangat ragu untuk mengatakan hal tersebut. Saya hanya bisa memandangnya dari teras sektretariat ketika dia berjalan kaki. Tiba-tiba saudara saya, Pipit  sambil tersenyum jahat berkata pada saya,
“Hilman, ngeliatin W mulu”
“Hah! Enggak!”
“W! Bareng sama Hilman!” Pipit memanggil W. Sialan
Akhirnya W mau saya antarkan pulang. Dagdigdugdagdigdug tetapi senang. Di tengah perjalanan, saya berinisiatif membuka perbincangan.
“W,  asalnya dari mana?”
“Dari Pekalongan, sebenernya sih di Batang,sebelahan sama Pekalongan.  Cuma orang-orang kurang tau batang  itu daerah mana,makanya aku bilang di Pekalongan,” W berbicara khas dengan logat Jawanya.  Perbincangan sekitar 10 menit di atas motor pun selesai di depan kosannya.

Besok hari saya melihat layar facebook, saya lihat W sedang Online. Saya ingat bahwa ia pernah berkata bahwa ia pernah SMS saya, tapi di Hp tidak ada pesan masuk. Penasaran dengan isi SMSnya, saya buka percakapan dia? Perbincangan berjalan cepat, dia membalas kurang dari semenit. Sementara saya juga demikian. Dari perbincangan tersebut menghasilkan nomor handphonenya yang catat di HP, begitupun dia. LAMPU HIJAU DARI CEWEK CANTIK MEN!

Setelah kejadian tersebut, kami sering berkomunikasi lewat SMS, Facebook, maupun pada saat latihan. Seringkali dia memulai komunikasi lewat SMS atau Facebook dahulu. Kami saling balas membalas cepat.  Dan kamipun, berangkat dan pulang latihan selalu bersama. Sebuah hal yang membuat saya merasa dekat dengannya. Begitupun para pelatih maupun siswa-siswa.
Respon  timbal balik dengannya begitu positif. Dia sering menekan tombol like di status facebook saya, sayapun melakukan demikian. Entah saya menjadi satu-satunya atau salah satunya. Tetapi, saya merasa dia tertarik dengan saya, saya rasa diapun tahu bahwa saya merasa tertarik dengannya. Sedikit demi sedikt, isi fikiran saya perlahan berubah dari seseorang, ke seseorang lainna,  walau tak sepenuhnya.
Waktu berjalan hingga kedekatan kami sampai puncak. Siang menuju waktu sore. Dinding facebook menjadi saksinya,
“Lagi apa?” Saya inisiatif mengirim chat.
“Lagi chat aja sama Hilman. Hilman lagi apa?”
(SKIP)
“W suka nonton film gak?”
“tergantug filmnya dong”
“Lu biasanya suka nonton apa?”
“Pokok’a bukan horor sma robot”
“Film sekarang yang seru apa aja?”
“kmrn aku udh nntn 99 chy d eropa cuman br part 1. yg keren film soekarno,, trus laskar pelangi2 (edensor) sm kt.a tenggelamnya kapal van der wijc tp g tw tuh nakutin apa engga”
“film animasi ada ga?” saya bertanya film animasi
“Hobbit tuh, kayanya ada film animasinya”
“Nonton yuk” Saya mengajak  dia menonton, dan berharap dia menerima ajakan saya.
“Boleh”
(SKIP)
Intinya dengan basa-basi diawalnya, akhirnya kami menentukan jadwal kapan kami menonton film di layar lebar. Film tersebut berjudul The Hobbit: The desolation Of Smaug.



4 Januari 2014. Sore itu, kami berdua menuju bioskop rajawali.  Hingga sampai di parkirannya.
“Hilman motornya taruh di tempat yang ada atapnya aja, nanti ujan helmnya basah”, Tepat di parkiran Bioskop
“Disini aja”, Jawab saya singkat
Dalam bioskop, sebelum film The hobbit dimulai, kami saling menatap dan tersenyum dalam perbincangan ringan layaknya manusia yang baru mengenal cinta. Terlihat dia lebih cantik dari biasanya, ya dia sedang cantik-cantiknya. Hari ini, saya tidak lagi memandangnya diam-diam seperti pertama kali saya melihatnya, karna kami saling memandang satu sama lain. Saya tidak ingin menyudahi pembicaraan. Saya ingin menatap dia berbicara dengan senyumnya lebih lama lagi, tetapi film segera dimulai.
Saya tidak terlalu mengerti dengan film tersebut. Film tersebut juga berakhir menggantung ceritanya. Ternyata film tersebut merupakan film ke 2 dari trilogi filmnya.
Film berakhir dengan naga terbang, tapi bukan ala Indosiar. Kami keluar dari pintu bioskop untuk menyegerakan pulang. Ternyata sore telah terlewat, dan waktu memasuki magrib. Terlihat genangan-genangan air hujan. Ternyata hujan turun ketika kami di sedang menikmati film. Sekarang hujan sudah reda, tetapi sisa hujan membekas di helm kami.
“Tuhkan ”  Dia melihat helmnya yang terlanjur basah. Terpaksa kami bergegas berkendara dengan helm, air dan rambut menjadi satu. Kami  bergegas menuju masjid  Mafaza untuk melaksankan sholat magrib. Setelah selesai sholat, saya menuju tempat perempuan.  Disana, dia telah termenung menunggu saya. Saya memandang dia begitu lama. Hati saya merasa tersentuh melihatnya.
“Ayuk” Saya panggil dia dengan senyum yang ditahan.
“Makan yuk”
“Boleh, dimana?”
Malam ini dingin dengan perut yang sudah keroncongan, akhirnya kami memutuskan ke tempat makan favorit anak kos, burjo.  Di lihat dari raut wajahnya, sepertinya dia bukan orang yang biasa makan di burjo. Kami berbincang tentang tempat makan favorit, dan memang  ternyata selera lidah kita hampir sama, yang membedakan  kalau saya siap makan dimana saja.
Waktu berjalan begitu singkat, padahal banyak hal yang telah kami lewati. Waktu memaksa kami untuk menuju ke teras kosannya Disana, sebelum saya pulang, kami berbicara singkat.
“Hei...”
“Iya....”
Saya terdiam untuk sementara. Malam itu di depan teras kosnya,  suasana begitu sepi. Saat itu, adalah kesempatan terbesar, untuk mengikatnya menjadi milik saya. Menggenggamnya hingga waktu yang entah sampai kapan. Namun, hati saya berkata, saya masih berharap untuk mendapatkan seseorang yang saya sebut cinta pertama. Seseorang yang pernah menyentuh dasar hati, dia adalah teman SMA saya.  Lagipula dari awal niatnya bermain denganya hanya sebatas teman.
“Gajadi, Gue balik dulu ya”
“Oh iya, makasih ya, hati-hati,  hilman.”

Tidak terjadi apapun malam itu. Saya telah menyukainya, tetapi saya belum yakin untuk mengatakan rasa ingin memiliki. Saya takut jika hati saya masih berharap dengan yang lainnya . Malam itu terlewat dengan sia-sia. Saya kembali ke kosan, lalu tertidur pulas.

Hari demi hari berlalu, saya yang sedang santai dalam beranda Facebook.
“Apa kabar man?” Tanpa angin dan badai, seseorang yang spesial mengirim SMS saya lewat Facebook.
“Baik, **** Apa  kabar?”
Pesan demi pesan saya balas dengan begitu antusias. Dia bukan W, dia adalah First Love. Harapan saya kepadanya untuk memilikinya yang sudah luncur, tiba-tiba pulih dengan hitungan detik.Haha.
Akibat dari kejadian itu, perlahan keseriusan kepada W mulai memudar.  
Namun sikap saya seperti mendapatkan akibat. Di malam latihan itu, saya merasa sikapnya tidak seperti biasanya. Dia mulai menjauh dari saya. Semua hal tersebut memunculkan pertanyaan dari hati saya,”Mengapa sikapnya berubah?” 

Liburan semesterpun tiba, saya pulang ke rumah sekitar 1 setengah  bulan. W yang dahulu ramah,sekarang terasa berbeda. Di balik selimut, saya setia menunggu balasan darinya SMS darinya. Resah begitu terasa menunggu balasan SMS yang sebelumnya semenit sekali menjadi lebih dari sejam sekali. Tiap terdengar nada dering SMS masuk, secepat kilat saya buka HP saya. Resah berubah menjadi rasa lega, saat dia membalas SMS saya. Namun sangat menyebalkan ketika orang lain apalagi operator.
 Di Facebook, saya habiskan waktu saya untuk menunggu pemberitahuan “W Menyukai Status Anda” sambil beruring seperti orang sakit.
Ingin saya katakan,”Kenapa berubah? Saya menginginkannya yang ramah seperti kemarin.Saya bertanya dalam hati,”Apakah dia teringat kembali pada cinta pertamanya?  Atau karena ada orang lain? Atau karena saya yang membosankan dan begitu dingin?”
Lebih dari sebulan liburan di Jakarta, kehidupan saya dihabisi dengan menguring di kasur karena ada satu pertanyaan yang takut saya tanyakan, ”Lu suka sama gua gak sih?”. Seringkali teman saya mengajak saya bermain Playstation, tetapi 80% dari ajakan tersebut saya tolak.  Seseorang yang saya fikirkan,  yaitu ia.
First love yang pernah datang bertanya kabar, kini hilang kembali entah kemana. Tetapi saya hanpir tidak memikirkan tentang dia lagi. Hampir 100% fikiran saya beralih memikirkan seseorang yang saya kenal lewat latihan  pencak silat.
Liburan berakhir, di Jakarta begitu merindukannya, tetapi mengapa setelah saya kembali ke Purwokerto, untuk ketemu W menjadi ragu. Sepertinya saya tidak bisa seperti dahulu, seperti pertama bertemu. Rasa risih untuk bertemu, sudah membayangi kepala.
Jok motor bagian belakang sudah tidak pernah terisi lagi olehnya ketika pergi maupun pulang latihan. Kini, kami menjauh satu-sama lain. Namun aku berharap dia mendekat. Apakah dia juga berharap sebaliknya?
Hari berjalan hingga sampai dimana ia tidak pernah saya pandang lagi. Dia berhenti dari latihan  PSHT. Saya juga ingin berhenti latihan saja. .
Waktu berjalan hingga pada minggu fajar itu. Minggu pagi ini, ada latihan wajib pagi. Badan begitu lemas dan kantuk masih menyelimuti mata. Bolos latihan lalu melanjutkan tidur adalah jalan terbaik. Namun sebelum melanjutkan tidur, saya buka laptop sekedar iseng-iseng membuka Facebook.
Dan “Jeder!”  Suara apa itu? Seperti suara geledek, tapi geledeknya datangnya dari jantung saya sendiri. Hari itu “nyelekit” sekali. Di beranda facebook itu muncul “W berpacaran dengan seseorang”. Seolah percaya tidak percaya, seketika jantung memompa darah seolah lebih cepat. Rasa kantuk menghilang dalam hitungan detik. Terdiam dan sepertinya sangat buruk untuk tetap berada di balik selimut. Lebih baik saya latihan pagi ini. Mengurangi beban pagi ini.
Sekaran jelas kenapa dia berubah. Semula dia yang hangat, selalu jadi orang yg pertama memulai chat, lalu beruba seketika menjadi oran yang digin. Jika saya berkata,”W hanya sekedar teman biasa. Saya masih mencintai First Love,” Maka saya telah berbohong karena kenyataanya saya telah berpindah hati. Dia, yang telah membuat saya bisa melupakan yang seseorang yang spesial.
“W, ingin saya bercerita banyak. Mengapa tidak saya tembak saja kamu ketika malam itu di depan teras kosanmu, ketika dia sedang cantik-cantiknya. Mengapa begitu bodohnya masih berharap cinta pertama kalau dia itu ada dimata hanya sementara. Dia orang yang pertama kali saya ajak menonton. Sekarang hanya tersisa dua  tiket bioskop bekas kita menonton film tersebut yang saya simpan sampai orang lain mendapatkanya. Kupandang 2 tiket tersebut, terasa begitu menyakitkan. Dengan nafas panjang, saya sobek kedua tiket tersebut lalu kubuangnya ke dalam plastik sampah.
Mungkin first love adalah orang yang paling dalam menyentuh hati. Namun dia dapat menggantikannya, sebelum menjadi penyesalan tersebesar.”

Rasa sakit yang saya alami tidak membuat saya terjatuh, justru membuat saya terpecut berusaha menjadi lebih baik lagi.  Terutama di UKM PSHT Unsoed, tempat pertama kali kami bertemu. Rasa malas untuk latihan hilang. Penyebab mengapa saya bisa menjadi atlet, warga ataupun pelatih tidak terlepas darinya. Saya senang ketika waktu sabuk polos lalu dapat juara 1, lalu dia mengetahuinya dan memberi ucapan selamat walau hanya via Facebook. Saya ingin katakan, “bukan karna gue hebat, tetapi karena peran lu jadian sama yang lain yang buat gua terpecut.”

Hal menyesakkan tersebut berlalu. hari demi hari, Harapan saya kepada W sudah hilang. Sekarang, bahkan saya hampir tidak pernah memikirkannya. Sekarang dia sudah tidak kuliah di Unsoed lagi, melainkan pindah ke STAN, daerah Bintaro. . Saya ingat, hari ini tanggal 22 Oktober, tanggal W lahir dan saya akan ucapkan,”selamat ulang tahun ya” di Pesan Facebooknya..

Dahulu, saya kira saya tidak bisa melupakan first love. Tapi, dari kejadian ini, saya sadar kalau hati bisa dengan mudah terbolak-balik. Saya yakin bisa menyukai orang lagi. Belajar tidak melakukan hal ceroboh lagi, menyia-nyiakan  kesempatan dan menjadikan hal tersebut penyesalan terbesar Mungkin suatu saat, saya akan meminta persetujuaan untuk menaruh namanya disini, di tulisan ini jika saya siap.  Agar tidak menjadi sekedar inisial saja.

Saya ada sedikit PUISI tentang masa lalu kedihupan itu, hehe
has been Deleted



Share:

Sabtu, 14 Oktober 2017

puisi musik ISTIKHARAH cinta

Share:

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tugas Akhir II: Jadi Karet atau Kaca?

INTRO:
“September 2016, Salem,Brebes, Jawa Tengah. Menempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Purwokerto menggunakan motor. Disana, puluhan manusia  sedang berduka. Iya, teman sekelas saya di bangku perkuliahan yang bernama Alga, meninggal  dunia. Bunga-bunga bertebaran di makamnya bersama doa. Beberapa teman dan juga sanak keluarga almarhum meneteskan air mata.
Lain dengan saya dan Kak Ari si angkatan 2011(2 tahun lebih tua dari saya). Di saat orang-orang sedang berdoa bersama, saya dan Ka Ari sedang berbincang pelan-pelan pada radius sekitar 5 meter dari kuburan Almarhum. Kami berbincang masalah rencana Tugas Akhir, mau mengambil judul apa, lalu merembet  target wisuda. Dan setelah sekian lama, dengan basa-basi busuknya, dia mengajak saya ikutan taruhan,
“Man,Lu mau gak ikutan, Jadi gua, Yunus,Wapi,Imam,sama Raihan kita udah buat perjajian. Cuma sebagai motivasi aja sih buat ngerjain skripsi. Jadi nih, kita buat target lulus September (2017), kalo misalnya ada dari kita yang gak lulus september(2017). Nanti yang gak wisuda kasih selamet buat yang wisuda sambil pake konde.Trus di dandanin pake kebaya.Ayo man, buat seru-seruan aja”
Lalu saya terdiam sesaat sambil berfikir. Awalnya ragu, tapi kalau difikir-fikir bisa juga sih buat motivasi. Dan akhirnya,
“Ayok!”
“Serius Nih! Deal ya!”sambil berjabat tangan.
“Ya!”
“OKEEE!”
SEPTEMBER 2017, Demi toga dikepala, saya akan berjuang Habis-habisan! Atau bakalan habis gara-gara pakai kebaya!


Sekarang. 4 Oktober 2017, Di kampung halaman, bersama butiran pie yang siap untuk disantap. Telah selesai Tugas Akhir 2 beserta perkuliahan. Di kampung ini, saya berniat untuk mencari kerja, tapi mungkin mulainya senin besok.  Sambil mengisi waktu yang kosong,  dan mood saya bagus,  saya ingin melanjutkan passion menulis saya, yaitu melanjutkan cerita dari Tugas Akhir I. Sebuah cerita yang berakhir pada Seminar Hasil.
Saya akan ceritakan, mungkin lebih tepatnya mengkronologikan semuanya secara rinci dan detail, mungkin akan menghabiskan berlembar-lembar halaman di microsoft word. Yasudah kita mulai aja, Keburu gak mood lagi.

Sehabis lebaran. Cerita dimulai dari waktu itu. Waktu itu,kondisi psikologis atau entah apa namanya, sedang dalam kondisi kritis. Karna waktu seminar hasil,  terjadi hal yang di luar dugaan. Saya di kritik habis oleh dosen. Pura-pura stay cool, walau mata sudah resah menutupi kegalauan, kegundahan, kerisauan, entahlah itu. Semua karena konsep fisika di skripsi saya yang masih kurang . Saya juga terkesan terburu-buru “Mau cepet-cepet wisuda” di mata dosen. Mungkin ini akibat saya yang terlalu meremehkan  “TUGAS AKHIR 1 cuma 3 SKS” dari 144 SKS.  Akh bodo amat!

JULI 2017, Saya menyukai sunyi, tapi dapat asyik sendiri. Saya merasakan sunyi yang sebenarnya, saat dalam sepi dan tertekan.
Waktu di kampung halaman, saya merasakan kegabutan yang tidak biasa. Saya mengeram di kamar, pagi memulai tidur sampai siang, lalu bangun makan siang, dilanjutkan tidur lagi sampai sore. Malam hari saya melakukan aktivitas sampai pukul 03.00. Apa yang saya kerjakan? Nonton youtube, nonton masha & the bear, Spongebob, Shaun The Sheep, lalu kalau sudah bosan bermain PS GTA san Andreas, di game itu, saya bebas pukulin orang, ngebunuh orang, orang lagi asyik bermain sepeda, saya tembak dengan Sniper kepalanya. Ke kantor polisi hanya untuk melempar bom, lalu 2 orang sedang bergandeng tangan, mungkin sedang merasakan cinta yang bersemi, lalu ada saya dari jarak sekitar5 meter. Lalu saya tembak pakai bazoka kedua tangan yang bergandengan tersebut, faedahnya dimana? Tidak ada.  
itu saja yang saya lakukan sampai tanggal 3 Juli 2017. Semalas- malasnya kebo, kebo juga kerja membajak sawah. Kalau dibanding saya, kebo lebih menang rajin.
Demi  kembali produktif, tanggal  3 Juli 2017, saya memutuskan untuk kembali ke Purwokerto meninggalkan kampung halaman yang padahal saya sendiri ingin lebih lama disana karena kenyamanannya. Di Purwokerto sendiri, nyatanya saya tidak melakukan apa-apa.  Saya memandang, jalanan di Purwokerto sangat lengang, mungkin bisa jadi lahan selfie sambil ngeroll. Burjo Langganan juga belum buka, mahasiswa masih pada di kampungnya masing-masing.  Purowkerto lebih dingin tidak seperti biasa. Atmosfernya mempengaruhi emosi saya.
 Saya merasakan rasa sunyi yang sebenarnya. Sebenernya saya menyukai suasana sunyi, tapi bisa asyik sendiri dengan apa yang saya kerjakan. Berbeda dengan suasana begitu sepi dan merasakan rasa tertekan. Suasana sepi dan berada pada rasa tertekan, itulah sunyi yang sebenarnya. Saya merasa kehilangan motivasi untuk revisi skripsi. Berbeda waktu sebelum Seminar Hasil yang begitu  berapi-api. Pada akhirnya terbakar api sendiri. Dan akhirnya keadaan berkata, saya harus berada pada keramaian, yaitu bermain bersama teman-teman.
Ada satu tahap lagi setelah kita melewati Seminar Hasil, yaitu sidang. Sidang sendiri terdiri dari ujian Skripsi dan komprehensif. Jadi setelah sidang, baru bisa yudisium(peresmian kelulusan) lalu wisuda(perayaan kelulusan).

Agustus 2017, Semua mulai kompleks.
Jadi untuk bisa daftar sidang, saya harus revisi skripsi terlebih dahulu dengan 5 dosen. Menyatukan fikiran 5 dosen, dosen A maunya  ini tapi dosen  B maunya itu. Walau begitu,  untuk revisi hanya memakan waktu normal 2 minggu. Tetapi saya memakan waktu revisi hingga 1 bulan dari tanggal 3 Juli.  Apakah karena malas?
Mengapa bisa seperti itu? Jadi ,tanggal pendaftaran sidang disana dibagi beberapa periode, yaitu pada tanggal 17-19 Juli 2017 dan 4-6 Agustus 2017. Karna ada syarat daftar sidang yang tidak bisa saya penuhi, yaitu  mata kuliah wajib harus sudah keluar semua nilainya. Nilai mata kuliah tersebut baru bisa keluar paling cepat 28 Juli. Maka dari itu saya memilih mendaftar pada periode 4-6 Agustus, dimana periode tersebut adalah periode terakhir pendaftaran sidang agar bisa wisuda September. Kalau tidak bisa, yasudah wassalam wisuda september tinggal mimpi.
Mata kuliah tersebut adalah Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan, yaitu mata kuliah wajib semester 2 yang saya ambil di semester 8. Tahun kemarin, nilai Kewirausaahn baru keluar tanggal 9 Agustus. Kalau tahun keluar lagi pada tanggal yang sama, itu artinya saya tidak bisa daftar sidang, artinya,saya tidak bisa wisuda September. Dan hal tersebut menjadi ketakutan saya yang paling besar.Konyol jika saya ditanya,”hilman, kenapa kamu gak wisuda,” jawabannya, “nilai KWU telat keluar bu!”
Akhirnya revisi skripsi sengaja saya selesaikan pada tanggal 2 Agustus. Sementara belum ada tanda-tanda keluar nilai mata kuliah Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan. Akhirnya, saya pergi ke Fakultas Sastra dan Ekonomi untuk menemui dosen pengampu mata kuliah tersebut. Dosen tersebut sulit ditemui. Dengan terpaksa dosen tersebut saya teror lewat Whats’Up pagi siang sore malam. Tapi singkat cerita, dengan teror yang panjang, akhirnya nilai-nilai tersebut dapat keluar sebelum pendaftaran sidang ditutup, dan akhirnya saya bisa mendaftar sidang. Terima kasih dosen Kewirausahaaan dan dosen Bahasa Indonesia. Walaupun saya tidak pernah tau nama kalian,tapi jasa kalian tak akan terlupa.
Masalah nilai sudah selesai, masalah baru datang lagi. Masalah yang lebih kompleks, diluar dugaan,  saya kira saya satu-satunya, ternyata saya salah satunya. Salah satu pendaftar sidang dari 15 pendaftar. Dan masalahnya,  dengan dosen yang sedikit harus menghadapi 15 mahasiswa dalam 6 hari kerja. 15 mahasiswa berarti terdapat 15 kali sidang dalam 6 hari kerja. satu kali sidang memakan waktu 2 jam. 1 kali sidang melibatkan 5 dosen, berbeda pada beberapa fakultas lainnya yang sidangnya paling banyak 3 dosen. Padahal, dosen jurusan saya jumlahnya bisa dibilang lebih sedikit dari fakultas lainnya.
Mendekati pendaftaran yudisium seperti ini,  semua menjadi ruwet. Keruwetan yang paling besar, yaitu saat 15 mahasiswa harus memfiksasi jadwal 5 dosen dalam satu waktu pada 6 hari kerja.  Disini mulai kacau. Mahasiswa lainnya memplotkan dirinya sendiri, entah sudah fix atau belum dosennya. Saya hampir saja tidak dapat mendapatkan jadwal. Tapi alhamdulillah, saya mendapatkan jadwal hari selasa tanggal 8 Agustus pagi pukul 8 pagi.
Disini  kelihatan sekali beberapa mahasiswa yang memikirkan dirinya masing-masing tanpa peduli apapun demi lulus september. Hubungan antar dosen dan mahasiswa menjadi retak akibat beberapa mahasiswa yang melanggar aturan dan memaksakan kehandak. Setelah saya menilai orang lain, lalu saya bertanya pada diri saya sendiri. Ternyata saya juga merasa seperti itu, egois termakan sama ego sendiri demi mengejar ambisi. Ego saya terlihat pada saat memfiksasi Jadwal 5 dosen. Anggap namanya dosen A,B,C,D, dan E. Awalnya jadwal saya selasa pagi pukul 8, saya sudah  konfirmasi dengan dosen B, tetapi jadwal tersebut saya ganti menjadi siang jam 1 karena ada mahasiswa yang ingin bertukar jadwal. Karena ada mahasiswa yang ingin bertukar jadwal dengan saya. Saya bilang ke dosen B “Maaf pak , jadwalnya jadi siang karena ada yang mau tukeran jadwal,”
“ya ga apa”,kata dosen B datar.
Lalu saya bilang dengan dosen A,C,D,E. Dosen C dan E menyanggupi jadwal siang, tapi dosen A dan D inginnya pagi. Oke jadwalnya jadi pagi lagi.
Balik lagi ke dosen B, ”aduh pak maaf sekali lagi, jadwalnya pindah ke pagi lagi”sambil senyum kecut
“yah ga apa” kata dosen B  datar.
Lalu kembali saya ke dosen C dan E, mereka juga menyanggupi jadwal pagi.  Disini, entah saya merasa memainkan dosen, saya merasa mementingkan diri sendiri.
Yah, saya sadar manusia hanya akan memikirkan dirinya sendiri tak peduli lingkungan sekitarnya, tak peduli yang ia lakukan benar atau salah saat dirinya dalam tekanan.

7 Agustus, saya menyerah!
Salah seorang teman berkata,”Dosen A lagi gak mau diganggu mahasiswa, kalau mau sidang dengan beliau, harus berdua sama mahasiswa,”
Saya tidak mau percaya kata-kata itu. Saya mencoba menemui dosen A, karna saya belum memberikan draft skripsi, beluai sulit ditemui tiap harinya. Dan pagi hari ini,saya berniat untuk menemuinya. Lalu? ZONK. Kata dari seorang kakak angkatan, beliau telah pulang lagi. Padahal waktu itu pagi hari pukul 08.00.  Besok, saya  harus sidang. Lalu draft skripsinya harus bagaimana?
Saya keluarkan Handphone sekedar untuk mewhats’UP Dosen A, “saya belum menyerahkan draft sidang pak, pak ini baiknya seperti apa?”Saya whats up juga dosen BCDE untuk mengingatkan ulang bahwa besok saya sidang. Jam demi jam berlalu, Hingga akhirnya, Dosen A hanya menyisakan tanda checklist warna biru. Tak ada balasan apa-apa. Dosen B,C  telah siap, Dosen E masih belum menjawab.  Sementara Dosen D, bertanya kepada saya, dan memulai percakapan. Maknanya seperti ini.
“Apakah semua dosen telah siap?”
“Dosen A, saya masih ragu pak,” Jawab saya
“ Lho gimana mas, anda suruh saya nguji anda sendiri gak yakin,”
“menurut kabar dari mahasiswa, dosen A ingin sidangnya berdua dengan mahasiswa (Quality time)”, Jawab saya yang mulai mempercayai masukan dari teman, BTW, gak  ada quality timenya yah.
“Anda jangan seenaknya menyuruh tanpa memikirkan konsekuensinya,perlu anda ketahui, jika 1 dosen tidak ada, maka anda tidak bisa, melakukan komprehensif,bisa dipahami?”
Lalu saya membisu tidak membalas dalam suatu dilema. Dosen A menginginkan quality time, sementara Dosen D mengharuskan semua dosen hadir.
Beberapa saat, Handphone kembali bergetar. Ada WA masuk dari dosen E.
“Jam segitu Saya kan menyidangkan Anisa,Anak 2012”
Jengjengjreeenggggg! Dosen A gak ada kabar, Dosen E sudah pasti tidak bisa. Saya ingin teriak sekencang-kencangnya. Ada satu misteri yang membuat saya begitu emosional pada waktu itu, ”GIMANA SIH!  KATANYA KAK ANISA SIANG, KENAPA GAK BILANG2 KALO JADWALNYA JADI PAGI!”
Saya ingin me WAnya, rasanya ingin meluapkan emosi dengan kata-kata sarkas tidak peduli dia kakak angkatan ataupun perempuan. Tapi  diawali dengan sebuah pertanyaan. “kak emang kakak jadwalnya besok pagi ya?” Tapi sepertinya nomornya sedang gak aktif. Beberapa jam berlalu. Masih dalam sebuah tekanan, saya mencoba menjernihkan fikiran. Apa jalan Terbaiknya? Yap,BUBARBUBAR! sidangnya dibubarkan saja,haha. Iya sidangnya ditunda, terus kapan mau sidangnya? Ya HABIS YUDISIUM.  Kenapa enggak besoknya? Enggak bisa, jadwalnya sudah penuh semua. Tidak ada kemungkinan semua dosen dapat berkumpul dalam satu waktu dan tempat. Sebenernya saya bisa saja sidang sebelum yudisium, dengan cara mampartisi dosen-dosen ke beberapa jadwal. Tapi saya rasa kurang etis cara seperti itu. Lagipula suasana waktu itu juga sedang kacau. Citra mahasiswa tugas akhir sedang kurang baik akibat dari beberapa kasus.
Sedikit flash back. Saya teringat waktu masih mahasiswa baru, target terbesar saya adalah lulus September 2017 dengan IPK minimal 3. Saya tulis target itu pada selembar kertas, saya tempelkan di dinding ruang kosan“AYO! September 2017, jangan males woi.
 Memang, lulus di bulan September menjadi target, menjadi harapan terbesar saya. Tapi jika keadaanya seperti ini, daripada citra mahasiswa tugas akhir semakin buruk, lebih baik saya mengalah daripada dan mengundurkan diri dari tim wisuda september.
Oke,langkah selanjutnya, sehabis magrib saya harus bermain ke sekretariat UKM, mengajak teman/saudara untuk menemani saya. Saya ajak lewat BBM,
“Saya kayaknya gagal lulus september deh Rin, kamu bisa gak ke Sekre gak ?Saya stress sendirian. Haha. Sekalian saya bantuin rekap peserta buat SH Cup?” SH cup itu adalah kejuaraan pencak silat se Jateng-DIY.
Lalu setelah di sekre,”Rin gimana nih ya batalin ke dosen?saya bingung takut gak sopan, takut disangka mempermainkan dosen, kira-kira gimana ya tulisannya”
“Wah, kalo soal WA dosen saya jagonya mas, saya ajarin deh, yang penting tuh jago basa-basi.”
“Ah, saya paling gak bisa basa-basi. Ini kamu yang ketikin aja” akhirnya saya serahkan Handphone saya,saya percayai dia untuk menuliskan pesannya.
Setelah hampir 1 jam,
“Lama bener! Udah belum?”
“Ini mas udah, saya send ya?”
“Jangan, saya Liat dulu” Dan isinya seperti ini,
Luar Biasa Merayu Kalimatnya.
Lalu saya menanggapi,”ini kenapa... gak ditambahin Love you aja sekalian rin, pas akhir-akhirnya gitu,”
Akhirnya saya sendiri yang mengetik WA dengan kalimata sebaik-baiknya yang saya bisa. Tidak ada emoticion, tidak ada rayuan, tidak apa basa-basi apa kabar pak, lagi ngapain pak dan yang terpenting itu sesuai dengan EYD.  Akhirnya dosen tidak ada yang marah akibat pembatalan ini.
Ketika membantu rekapan SH Cup, ada WA masuk dari Imam,teman satu angkatan. Ternyata berisi pesan suara, suaranya Egi, dengan gayanya yang memang ada lucu-lucunya, tapi  saya kurang paham bicara pakai bahasa apa, sepertinya bahasa isyarat. Mereka sebelumnya tahu kalau saya gagal sidang. Singkatnya, Imam saya ajak menginap di kosan saya agar rasa tertekan saya berkurang. Saya pulang dari Sekretariat setelah membantu menyelesaikan rekapan SH Cup.
Di kosan, saya melihat WA masuk lagi. Saya lihat WA dari kak yani, teman dari kak anissa.
“Hilman, ini Yani. Kamu bisa sidang pagi,  Anisa sidangnya jam 1”
“Lah kata dosen E kak anisa jam 8 pagi”
“Enggak kok  siang”
Akhirnya saya paham, ternyata Dosen E yang lupa jadwal. Hampir saja saya marah-marah kepada orang yang tidak salah apa-apa. Hal itu terjadi sekitar 1 jam setelah saya membatalkan jadwal sidang. Saya paham, sepertinya Allah tidak menghendaki saya lulus September.

Tapi dari hal tersebut, ada pelajaran yang bisa saya ambil.
Saya teringat waktu SMP, waktu itu saya sedikit membaca buku kimia mengenai sifat bahan. Salah duanya adalah karet dan kaca.  Sifat karet yaitu elastis. Sementara sifat kaca yaitu kaku. Contoh dari benda yang terbuat dari karet yaitu bola basket.  Bola basket, semakin keras di banting, maka akan semakin tinggi melambung.  
Contoh dari benda yang terbuat dari kaca yaitu piring. Berbeda dengan bola basket, semakin keras piring di banting, makan akan semakin kepingan-kepingan karena piring tersebut hancur.
Sama seperti manusia. Manusia pasti pernah merasakan apa yang namanya ujian yang berat, jatuh dan sulit untuk kembali lagi. Sama seperti apa yang saya alami saat ini. 
Tapi manusia dapat memilih, apakah dia ingin bersifat seperti karet, yang semakin keras ia terjatuh, maka akan semakin tinggi tekad dia untuk menjadi lebih baik lagi. Atau seperti  kaca, semakin keras dibanting, makan semakin hancur tekad dia. 

Wah gak  terasa  udah 8 lembar di microsoft word. Tapi ceritanya juga belum selesai yah.
Oke  sudah tidak mood lagi nulisnya. Langsung disingkat aja. Besoknya, selasa pagi, saya jadi sidang sama Iska, rekan saya,di Tranggulaasih pastinya. Tempat wisata yang sejuk. Pengujinya pohon dan rerumputan. 
Setelah itu, dibanding memikirkan sidang,  waktu yang saya lalui lebih fokus pada kegiatan UKM. . Ke tempat latihan, berbagi ilmu pencak  yang saya punya.
Teman-teman saya akhirnya yudisium. Saya hanya bisa turut mengucapkan selamat kepada mereka.  Walau saya masih belum ikhlas melihat instagram,  karna isinya pasti tentang yudisium. Jadi saya lihat instagramnya, dengan mata tertutup. Sambil mengintip sedikit pastinya.  
Suasana yang kacau telah kembali tenang. Akhirnya saya melaksanakan sidang yang sesunggugnya saat H-4 SH Cup. Alhamdulillah saya dapat melewati sidang dengan nilai yang apa adanya. SH Cup juga terlewat, dengan hasil ada apanya.
Beberapa minggu kemudian, acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.  Wisudaan September.
 1 tahun yang lalu, 6 anak taruhan, “yang gak lulus September, pake konde”. Wapi,imam, Raihan, mereka menang. Sementara saya, Yunuz, dan kak ari si pembuat taruhan, yap, karena ceritanya disingkat, jadi singkat cerita kami sebagai lelaki sejati yang menepati janjinya, menjadi banci. Oke jangan bawa-bawa label pencak silat, karena pencak silat tidak punya salah apa-apa.
Dan sialnya, teman pencak silat saya, lewat! ”WAH Mas Hilman, cantik Banget!”
 Akhirnya, foto bareng,sambil pasang silat. Lebih parah dari itu,  di Upload ke instagram,di share ke grup Whats Up.
Dibalik senyum para manusia, ada seorang manusia yang menderita. Haha.

“Man, besok mangkal dimana?”
“Kamu, berbakat memang man,”
“Sudah cantik, sayang lurus doang gak ada isinya, ” dipuji teman UKM sendiri. Hahaha.
Mungkin ini kutukan buat saya, karena saya membuat taruhan di kuburan ketika ada teman yang meninggal.
Jadi, sudah terjawab sedetail-detailnya pertanyaan beberapa teman yang bertanya,”kenapa gak jadi sidang?” 
Kalau ditanya, Jawaban singkatnya? Karena dosennya lupa jadwal. Jawaban panjangnya? Butuh 10 halaman  microsoft word untuk menjawabnya bro.
Kalau ditanya,”Hilman Sedih gak sih gak jadi wisuda?”
Jawabannya,”kalau mau tau rasanya, coba aja rasain punya nasib percis seperti gua, lu bakalan paham. Tapi rasanya versi gua, sakit? iya awalnya memang sakit. Tapi setelah gue sidang, rasa sakit berubah jadi lega. Apalagi pas wisuda, gue gak merasa iri mereka berhasil wisuda. Waktu itu, emosi gue lebih fokus ke rasa nahan malu, karna pake kebaya. Tapi setelah itu,gue merasa senang dan tenang. Gue rasa,gue ikhlas gagal wisuda” 

Iya, hari ini, alhamdulillah, saya sudah bisa ikhlas.
Share: