Bagi teman-teman yang belum mengetahui lokasi Universitas Pertahanan (Unhan), kampus tersebut berada di Kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC), Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Silakan mencarinya melalui Google Maps, pasti akan ditemukan. Jaraknya sekitar 50 km dari rumah saya di Cililitan, Jakarta Timur.
Saya pernah mencoba memesan Go-Jek menuju Unhan. Namun, aplikasi tersebut justru memberikan notifikasi, “Biar driver tidak masuk angin, jarak maksimal kami 25 km, ya.” -.-‘
Dahulu saya juga pernah mencoba memesan Go-Jek dari Jakarta dengan lokasi tujuan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Ternyata juga tidak bisa. Btw Unsoed di Jawa Tengah. wkwk.
Jadi, bagi yang ingin mudik dari Jakarta ke Jawa Tengah, jangan mencoba memesan perjalanan menggunakan aplikasi Go-Jek karena kemungkinan besar tidak bisa. Namun, kalau dari Jawa Tengah ke Jakarta, saya juga tidak tahu apakah bisa atau tidak.
Jokes nya garing banget ya.... mungkin yang baca juga ga tau gue lagi nge jokes.
Udahlah
kita lanjut aja cerita seleksinya. kepanjangan ya intronya
Sekilas Tentang Perjalanan Menuju Unhan
Berdasarkan pengalaman saya mengikuti tes dan seleksi masuk Unhan, berikut merupakan tahapan demi tahapan yang saya lalui. Semoga pengalaman ini dapat menjadi referensi sekaligus tips bagi teman-teman yang ingin mengikuti seleksi beasiswa S2 Universitas Pertahanan.
TAHAP 1/4: SELEKSI ADMINISTRASI
26 November 2017, Lokasi saya di Unsoed, Purwokerto, Kab. Banyumas, Jawa Tengah.
Btw, status saya masih mahasiswa S1.
Tapi masa perkuliahan S1 sudah selesai dan yudisium juga telah dilaksanakan sekitar lima hari sebelumnya. Saya hanya tinggal menunggu wisuda, ijazah, transkrip nilai, dan berbagai dokumen lainnya.
Namun, ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya: setelah lulus, saya akan melanjutkan ke mana?
Orang tua menyarankan saya menjadi PNS karena menurut mereka masa tua seorang PNS lebih terjamin. Namun, saat itu saya masih belum terlalu tertarik untuk langsung mengikuti tes CPNS. Saya justru ingin bekerja di luar kota, di mana pun itu.
Saat itu saya belum terpikir untuk melanjutkan S2. Kalaupun ingin melanjutkan S2, saya berharap bisa mendapatkan beasiswa. Saya berpikir, S1 saja sudah membebani orang tua, masa untuk S2 masih menggunakan uang orang tua lagi.
Salah satu beasiswa yang sempat saya pertimbangkan adalah LPDP. Saya pernah membaca informasi dan menonton beberapa video mengenai beasiswa LPDP. Program tersebut terlihat menarik. Namun, saat itu pendaftaran beasiswa LPDP belum dibuka.
Selain itu, menurut informasi yang saya dengar, tes TOEFL sebagai salah satu persyaratan beasiswa LPDP membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal tersebut membuat saya mengurungkan niat untuk mengikuti beasiswa LPDP.
Sampai akhirnya saya melihat informasi mengenai penerimaan mahasiswa S2 Unhan di sebuah grup WhatsApp.
Awalnya saya bahkan tidak mengetahui apa itu Unhan dan di mana lokasinya. Namun, dari berbagai informasi beasiswa S2 maupun lowongan pekerjaan yang saya lihat saat itu, beasiswa Unhan merupakan pilihan yang paling menarik dan paling ideal bagi saya.
Salah satu alasan utamanya adalah karena beasiswa tersebut bersifat penuh.
Mulai dari biaya kuliah yang gratis, adanya asrama, makan tiga kali sehari, uang saku bulanan, hingga biaya tesis yang juga ditanggung oleh Unhan. Belum lagi program Kuliah Kerja Dalam Negeri dan Kuliah Kerja Luar Negeri yang juga gratis dan bahkan mendapatkan uang saku.
Sebenarnya ada berbagai pilihan beasiswa S2 di luar negeri. Namun, saat itu saya belum percaya diri dengan kemampuan saya sendiri. Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan, mulai dari kemampuan bahasa, makanan, tekanan lingkungan, hingga tantangan akademik yang harus dihadapi.
Sementara itu, seleksi masuk Unhan juga tidak dipungut biaya. Terdapat empat tahap seleksi, yaitu:
Seleksi administrasi.
Tes TOEFL dan Tes Potensi Akademik (TPA).
Tes psikologi.
Tes wawancara.
Seluruh proses seleksi tersebut ditanggung oleh Unhan. Biaya yang mungkin muncul hanya berasal dari proses melengkapi persyaratan administrasi pada tahap awal, seperti surat keterangan sehat, bebas tato, dan bebas narkoba dari rumah sakit pemerintah. Saat itu, total biaya yang saya keluarkan sekitar Rp300.000.
Saya kemudian menghubungi orang tua dan menyampaikan keinginan untuk mencoba masuk Unhan. Orang tua memberikan dukungan dan berpesan agar saya terus maju serta tidak mudah menyerah.
Dengan tekad tersebut, saya melakukan pendaftaran calon mahasiswa baru melalui situs resmi Unhan.
Saya kemudian melihat berbagai program studi yang tersedia. Dari seluruh pilihan tersebut, akhirnya saya tertarik dengan Program Studi Teknologi Penginderaan.
Apa itu Teknologi Penginderaan? Mengapa saya memilih program studi tersebut?
Kalau diceritakan secara lengkap, pembahasannya akan terlalu panjang. Intinya, tulisan ini lebih berfokus pada lika-liku perjalanan saya mengikuti seleksi masuk Unhan.
Persiapan Berkas Administrasi
Langkah pertama adalah mengumpulkan berbagai berkas persyaratan untuk pendaftaran secara daring.
Persyaratan yang harus dipenuhi pada proses registrasi antara lain:
Curriculum Vitae (CV);
dokumen akreditasi program studi;
fotokopi ijazah yang telah dilegalisir;
fotokopi transkrip nilai yang telah dilegalisir;
paper mengenai persepsi terhadap program studi yang dipilih dalam bahasa Inggris;
SKCK;
fotokopi akta kelahiran yang telah dilegalisir;
fotokopi KTP yang telah dilegalisir;
fotokopi Kartu Keluarga yang telah dilegalisir;
surat rekomendasi dari Dekan atau Ketua Jurusan S1 bagi fresh graduate;
surat keterangan sehat;
surat keterangan bebas narkoba;
surat keterangan bebas tato dari rumah sakit pemerintah; dan
foto menggunakan jas berwarna hitam.
Seluruh dokumen tersebut harus dipindai untuk diunggah pada proses registrasi daring. Selain itu, seluruh dokumen juga harus disiapkan sebanyak empat rangkap untuk dibawa pada saat proses verifikasi.
Sebelum sibuk mengurus berkas pendaftaran Unhan, saya terlebih dahulu harus memastikan seluruh urusan wisuda S1 selesai.
Masa kita sibuk mengumpulkan berkas masuk Unhan, tetapi lupa mengurus berkas wisuda? Tentu akan menjadi masalah kalau sudah diterima Unhan tetapi status S1 belum selesai. Masa wisuda S1 digabung dengan S2, trus sekalian dengan S3? -__-
Setelah wisuda selesai, ketika sebagian besar orang punya bercandaan sebuah pertanyaan “setelah wisuda kapan menikah?”, saya justru memikirkan bagaimana membagi waktu antara belajar TOEFL dan mengumpulkan berbagai berkas administrasi.
Saya kemudian menyusun roadmap mengenai apa saja yang harus dilakukan.
Pertama, saya membuat CV. Karena sebelumnya sudah memiliki CV, saya hanya perlu memperbaiki dan menambahkan beberapa informasi yang diperlukan.
Selanjutnya, karena dalam seleksi Unhan terdapat tes TPA dan TOEFL, saya harus kembali belajar dengan lebih serius agar mendapatkan nilai maksimal.
Pada tes TOEFL sebelumnya, saya memperoleh skor 417, karna emang ga belajar samsek bahkan ga tau soal toefl waktu itu gimana....
Nilai tersebut memang cukup untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan dari Unsoed, tetapi masih terlalu jauh dari standar yang diperlukan untuk lolos seleksi Unhan.
Karena itu, saya harus belajar lebih tekun.
Saya membeli buku TOEFL setebal lebih dari 650 halaman di Gramedia, di salah satu mal dekat Alun-Alun Purwokerto. Harganya sekitar Rp150.000.
Menurut saya, buku tersebut cukup murah karena dapat digunakan dalam jangka panjang, terutama bagian grammar. Perkembangan grammar bahasa Inggris tentu tidak secepat perkembangan teknologi. Jadi buku ini ya mungkin 10 tahun lagi buku ini masih relate......
Kecuali suatu hari terjadi evolusi bahasa, misalnya bahasa Inggris dijajah Arab Saudi sehingga bahasa internasional berubah, kemudian TOEFL juga berevolusi menggunakan bahasa Arab. Wei apaan sih....
Walaupun tes TOEFL masih sekitar dua setengah bulan lagi, saya sudah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari.
Saya membuat rencana belajar selama dua setengah bulan. Materinya mulai dari listening, grammar, reading, hingga menghafalkan kosakata yang belum saya ketahui.
Saya juga terus memotivasi diri sendiri.
Bahkan ketika malam hari, di sekretariat PSHT Unsoed, ketika seharusnya jadwal latihan, saya justru meninggalkan latihan untuk belajar grammar. Saya datang hanya untuk belajar grammar, meskipun tentu saja tetap ada saja dulur--dulur yang mengganggu.
Selain belajar, saya juga harus mengurus beberapa dokumen administrasi, salah satunya surat rekomendasi dari Dekan FMIPA atau Ketua Jurusan Fisika.
Akhirnya saya memilih meminta rekomendasi kepada Ketua Jurusan Fisika karena prosesnya lebih mudah.
Ketua Jurusan Fisika Unsoed saat itu adalah Pak Wahyu Widanarto. Beliau baru saja meraih gelar profesor dan menjadi guru besar fisika pertama di Unsoed. Meskipun demikian, beliau tetap sangat baik dan tidak sombong.
Setelah tanda tangan rekomendasi diperoleh, saya melanjutkan proses administrasi lainnya.
Fotokopi KTP, KK, akta kelahiran, dan dokumen lainnya harus dilegalisir. Saya juga harus mengurus SKCK. Seluruh dokumen tersebut harus diurus sesuai dengan domisili saya.
Artinya, dari Purwokerto saya harus pulang ke Jakarta sambil membawa buku TOEFL.
Proses legalisir KTP, KK, dan akta kelahiran dilakukan di tempat yang berbeda-beda. Untuk membuat SKCK, saya bahkan harus datang sekitar pukul lima pagi untuk mengambil nomor antrean, kemudian kembali lagi sekitar pukul delapan.
Di Jakarta, saya juga membuat surat keterangan sehat dan bebas narkoba di RS POLRI dengan biaya sekitar Rp300.000.
Mengurus seluruh administrasi tersebut memang membutuhkan perjuangan fisik. Saya harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, belum lagi harus menghadapi antrean dan menunggu dengan sabar.
Setelah seluruh administrasi selesai, saya kembali ke Purwokerto untuk mengambil ijazah sekaligus mempersiapkan kepulangan dari kos.
Perjalanan tersebut menjadi perjalanan terakhir saya ke Purwokerto dalam masa perkuliahan S1.
Saya berada di ujung senja Purwokerto.
Mungkin itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat itu. Sekitar satu bulan lagi saya akan meninggalkan Purwokerto. 4 tahun yang penuh cerita....
Yudisium dan wisuda telah terlewati. Tinggal satu hal terakhir yang harus diselesaikan: mengambil ijazah dan fotokopi legalisir.
Sambil menunggu ijazah selesai, saya terus belajar TOEFL.
Saya juga membuat paper dalam bahasa Inggris mengenai persepsi terhadap program studi yang dipilih, dengan panjang maksimal dua halaman.
Langkah awal yang saya lakukan adalah mencari berbagai referensi mengenai teknologi penginderaan dari e-book, jurnal, skripsi, maupun tesis.
Saya menyusun paper tersebut mulai dari perkenalan diri, alasan memilih Program Studi Teknologi Penginderaan, penjelasan mengenai teknologi penginderaan, hingga persepsi saya mengenai perkuliahan di program studi tersebut.
Awalnya saya menulis dalam bahasa Indonesia, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.
CV yang sebelumnya sudah saya buat sebelum wisuda juga saya perbaiki kembali, baik dari sisi tata letak maupun isinya.
Pada pertengahan Januari 2018, ijazah beserta fotokopi yang telah dilegalisir akhirnya selesai.
Artinya, saya sudah tidak memiliki keperluan lain di Purwokerto. Semua urusan telah selesai.
Saatnya saya kembali ke kampung halaman, Jakarta.
Seluruh berkas telah lengkap dan sudah saya pindai.
Saya kemudian mengunggah dokumen satu per satu.
Alhamdulillah, proses registrasi daring akhirnya selesai.
Sekarang saya hanya perlu menunggu pengumuman apakah saya lolos seleksi administrasi dan dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes TOEFL dan TPA.
TAHAP 2/4: VERIFIKASI ADMINISTRASI, TES TOEFL, DAN TES TPA
Di Jakarta, saya melanjutkan persiapan belajar TOEFL.
Namun, saya menyadari bahwa terlalu fokus pada TOEFL juga tidak baik karena TPA tidak boleh dianggap remeh.
Akhirnya saya memutuskan membeli buku TPA. Waktu itu saya menitip kepada adik untuk membelinya di Gramedia. Harganya sekitar Rp135.000, kalau tidak salah.
Menurut saya, buku tersebut juga dapat digunakan dalam jangka panjang, misalnya jika suatu saat ingin mengikuti tes lainnya seperti seleksi CPNS.
Jangan pernah meremehkan tes TPA.
Memang benar bahwa Tes Potensi Akademik (TPA) pada dasarnya mengukur potensi kita dalam bidang akademik dan materi yang diberikan merupakan materi dasar.
Namun, semakin sering kita berlatih soal TPA, otak kita akan semakin terbiasa. Hal tersebut berdampak pada meningkatnya kecepatan dalam menyelesaikan soal.
Pada awal latihan, saya bahkan tidak mampu menyelesaikan 40 soal dalam waktu 25 menit. Namun, setelah semakin sering berlatih, saya menjadi lebih cepat dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Dua setengah bulan berlalu.
Pengumuman peserta yang lolos seleksi administrasi akhirnya diumumkan.
Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos seleksi administrasi.
Jarak Pengumuman lolos seleksi administrasi ke Tes Toefl sangat pendek, cuma 3 hari.
Dan hari yang paling saya tunggu-tunggu: tes TOEFL.
Inilah tes yang selama dua setengah bulan terus saya pikirkan.
Hasil dari perjuangan belajar selama dua setengah bulan akan terlihat dalam waktu sekitar dua jam.
Belajar selama dua setengah bulan tentu tidak mudah. Ada tekanan dan harapan agar hasil ujian dapat memuaskan.
Malam sebelum tes TOEFL, saya hanya melakukan latihan ringan, terutama listening dan sedikit membaca kembali materi grammar.
Pengalaman Mengikuti Tes TOEFL
Tes TOEFL yang saya ikuti pada dasarnya sama seperti tes TOEFL pada umumnya. Yang saya maksud bukan jenis soalnya, tetapi komposisi atau pembagian soalnya.
Terdiri atas:
Ketika tes TOEFL di Unhan dimulai, bagian introduction pada listening terasa sangat lama.
Saya sempat bengong sambil melihat soal. Tiba-tiba, saya menyadari bahwa soal sudah memasuki nomor tiga.
Percayalah, satu soal listening yang terlewat saja sudah cukup membuat mental jatuh. Apalagi sampai tiga soal.
tapi yaudah, kosongkan fikiran, fokus, konsen
Yah....
Untuk bagian grammar/structure/written expression, terdapat 25 soal, tetapi bobotnya cukup besar. Bagian ini juga memiliki banyak jebakan. Tapi Kita sudah siasati.
Kemudian bagian terakhir adalah reading yang terdiri atas 50 soal dan merupakan bagian yang cukup melelahkan.
Dalam mengerjakan reading, menurut pengalaman saya, hal yang penting adalah membaca pertanyaan terlebih dahulu, kemudian mencari jawabannya di dalam teks.
Jika kita menerjemahkan seluruh isi teks secara keseluruhan, waktu akan habis karena terlalu lama membaca. Hal tersebut juga pernah dijelaskan oleh guru bahasa Inggris saya dahulu.
Tidak terasa, waktu tes TOEFL akhirnya habis.
Setelah TOEFL selesai, tes TPA menunggu.
Sebelum tes TPA, seperti biasa saya melakukan belajar ringan dan santai pada malam harinya.
Saat mengerjakan TPA, alhamdulillah semuanya berjalan lancar.
Soal yang muncul mulai dari sinonim, antonim, tes numerik, hingga logika.
Terutama pada bagian sinonim dan antonim, saya merasa usaha menghafalkan kosakata dari buku tidak sia-sia. Hampir semuanya terasa familiar.
Begitu juga dengan tes numerik yang cukup menyita waktu. Karena sudah terbiasa berlatih, saya merasa pengerjaannya menjadi lebih ringan.
Hal yang sama juga saya rasakan pada bagian tes logika.
Tes TOEFL dan TPA akhirnya selesai.
Alhamdulillah, ada rasa lega di hati.
Biasanya saya belajar minimal empat jam setiap hari. Setelah tes selesai, saya tidak lagi belajar seintensif sebelumnya.
Saatnya beristirahat dan menunggu pengumuman.
TAHAP 3/4: TES PSIKOLOGI
Kapan pengumuman kelulusan tes TPA dan TOEFL?
Ternyata masih sekitar tiga setengah bulan lagi.
Karena pengumuman kelulusan masih cukup lama, daripada menganggur, saya memutuskan mencari pekerjaan melalui JobStreet.
Awalnya, seorang teman memberikan informasi mengenai lowongan pekerjaan sebagai guru les di sekitar UI.
Saya mencoba melamar sebagai guru matematika dan bahasa Inggris.
Tahap pertama adalah mengerjakan soal-soal UN yang cukup banyak. Alhamdulillah, saya berhasil lolos tes pertama.
Tes kedua adalah microteaching, yaitu mengajar di hadapan pengelola lembaga les.
Karena belum memiliki persiapan mengenai microteaching dan belum memiliki pengalaman mengajar, akhirnya saya gagal pada tahap tersebut.
Saya pulang dengan wajah melas, tetapi tegar kok... iya tegar.....
Kemudian saya menemukan lowongan pekerjaan sebagai 3D & Graphic Designer di JobStreet.
Walaupun latar belakang pendidikan saya adalah fisika dan tidak terlalu berkaitan dengan pekerjaan 3D Designer, saya memiliki sedikit kemampuan di bidang tersebut.
Saya kemudian melamar ke beberapa perusahaan yang membuka lowongan 3D Designer.
Keesokan harinya, ketika sedang bermain PS2, tiba-tiba ada telepon masuk.
“Siang, apa betul Saudara Hilman Putra yang melamar di PT.....?”
“Ya, betul. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya melihat CV Anda. Besok bisa datang ke kantor?”
“Oh, ya, insyaallah. Kalau boleh tahu, jam berapa? Kemudian alamatnya di mana?”
“Nanti saya WhatsApp. Ada WhatsApp, kan?”
“Oh, ya, ada.”
Keesokan harinya saya datang untuk mengikuti interview.
Singkat cerita, saya diterima bekerja di perusahaan tersebut.
Saya bekerja cukup keras, bahkan sering lembur. Berangkat pagi dan baru sampai rumah setelah magrib.
Walaupun pekerjaan tersebut bukan tujuan utama saya, saya tetap berusaha berkomitmen dan menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Tiga bulan berlalu tanpa terasa.
Akhirnya, pengumuman hasil tes TOEFL dan TPA keluar pada Jumat sore.
Dan....hoore.....Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos tes TOEFL dan TPA serta berhak melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes psikologi. Bulan Puasa yang penuh berkah....
Empat hari sebelum tes psikologi, saya mengikuti dauroh dan pesantren kilat di Bogor diajak temen SMA. haha
Kebetulan saat itu sedang bulan Ramadan. Saya diajak oleh teman SMA mengikuti pesantren kilat. Kami berangkat Jumat malam dan kembali Minggu malam.
Di sana saya pura2 jadi orang alim karna ikut-ikutan. Banyak berdoa, terutama pada waktu-waktu yang dianggap mustajab, seperti menjelang berbuka puasa, antara azan dan iqamah, sepertiga malam saat melaksanakan salat tahajud, denger ceramah walau ketiduran, dll...
Menurut saya, tes psikologi tidak hanya membutuhkan persiapan akademik, tetapi juga kesehatan psikis.
Saya berpikir bahwa hal yang paling penting adalah mempersiapkan EQ. Untuk menunjang EQ, menurut saya diperlukan pula perbaikan SQ.
Saya memandang EQ berkaitan dengan SQ. Salah satu cara memperbaiki SQ adalah dengan memperbanyak refleksi, berpikir, dan merenung.
Walaupun demikian, saya tetap belajar dan mencari contoh soal psikotes di internet.
Hari Tes Psikologi
Hari pelaksanaan tes psikologi akhirnya tiba.
Setelah sahur saya langsung berangkat dari Jakarta Timur menuju Sentul, Bogor.
Lokasi tes bukan di gedung Unhan, melainkan di gedung BNPB.
Tes yang dilaksanakan saat itu meliputi tes koran, tes Pauli, tes pernyataan, rencana tesis, serta berbagai penilaian mengenai keseriusan peserta untuk masuk Unhan.
Tes dimulai pukul 08.00 dan selesai sekitar pukul 14.00.
Setelah selesai, rasanya otak sudah benar-benar lelah haus.
Bibir sampai kering dan pecah-pecah. Kulit bibir yang terkelupas bahkan sampai terlihat merah.
Untungnya, setelah tes selesai kami mendapatkan snack.
Saya memakannya dengan lahap.
di rumah btw. pas adzan
TAHAP 4/4: TES WAWANCARA
Tes wawancara dilaksanakan setelah Lebaran.
Jarak waktunya sekitar satu bulan lebih setelah tes psikologi, meskipun saya sudah tidak terlalu ingat secara pasti.
Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos tes psikologi dan berhak melanjutkan ke tahap terakhir, yaitu wawancara.
Jika tahap ini berhasil dilewati, saya berhak mengikuti pendidikan dasar bela negara dan kemudian melanjutkan perkuliahan sebagai mahasiswa pascasarjana di Unhan.
Salah satu berkas yang perlu dipersiapkan adalah paper berbahasa Inggris mengenai persepsi terhadap program studi yang dipilih. Paper tersebut sebelumnya sudah dibuat sebagai bagian dari persyaratan administrasi.
Saat memeriksa kembali paper tersebut, saya baru menyadari betapa buruknya grammar yang saya gunakan.
Ternyata belajar TOEFL mati-matian selama dua setengah bulan memberikan dampak juga.
Saya kemudian mempelajari berbagai hal mengenai Unhan, mulai dari apa itu Unhan, visi dan misinya, moto Unhan, hingga pengertian bela negara.
Saya juga membuat daftar kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan oleh pewawancara.
Hari Wawancara
Hari wawancara akhirnya tiba.
Saya harus mengantre dan mendapatkan nomor urut tertentu.
Entah mengapa, pada hari itu saya merasa lebih tegang dibandingkan biasanya.
Bukan karena takut berbicara di depan pewawancara, tetapi karena wawancara merupakan tahap terakhir yang menentukan.
Jika gagal pada tahap ini, rasanya perjuangan sejak November 2017 hingga Juli 2018 akan sia-sia.
Tekanan tersebut cukup mengganggu pikiran saya.
Saya kemudian mencoba membangun mindset:
“Tenang. Nervous tidak akan menyelesaikan masalah.”
Setidaknya, kalimat tersebut sedikit membantu.
Antrean wawancara cukup panjang.
Saat itu, ratusan calon mahasiswa dibagi menjadi sekitar 10 kelas, kalau tidak salah.
Sebenarnya jumlah peserta di setiap kelas tidak terlalu banyak. Namun, setiap orang diwawancarai sekitar 45 menit.
Karena antreannya cukup panjang, saya justru semakin ingin segera diwawancarai agar bisa langsung pulang dan tidur.
Saya menunggu sejak pukul 08.00 dan akhirnya mendapatkan giliran sekitar pukul 11.55.
Akhirnya saya diwawancarai juga.
Namun, panitia memutuskan untuk melaksanakan ishoma terlebih dahulu dan wawancara dilanjutkan kembali pada pukul 13.30.
Tepat pukul 13.30, akhirnya saya masuk ke ruang wawancara.
Ada tiga orang pewawancara.
Pewawancara pertama adalah seorang Laksamana Muda (Bintang 2 Angkatan Laut), Beliau Dekan Fakultas Keamanan Nasional.
Pewawancara kedua adalah seorang Kolonel yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknologi Penginderaan.
Pewawancara ketiga.... saya sudah lupa namanya.
Pewawancara pertama memiliki pembawaan yang sangat tegas dan pada awal wawancara terasa cukup galak.
Beberapa pertanyaan yang saya ingat antara lain:
Apa itu ISIS?
Apa itu HTI?
Apa pengertian bela negara?
Jika negara kita diserang oleh negara asing, apa reaksi Anda?
Mengapa tidak memilih S2 di Unsoed atau universitas lainnya?
Untuk pertanyaan terakhir, saya menjawab dengan jujur dan tegas:
“Karena di Unhan gratis, Pak.”
Karena beliau Dekan Keamanan Nasional beberapa pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan wawasan kebangsaan serta kemungkinan keterlibatan peserta dalam organisasi tertentu.
Ada pula satu pertanyaan yang cukup membuat saya terkejut:
“Apakah kamu kuat kuliah di sini? Kalau nanti tidak lulus atau DO, ada pengembalian uang beasiswa.”
Saya menjawab dengan tegas, tetapi tetap berusaha santai:
“Saya sudah mempersiapkan mental, Pak. Saya bisa melewati tes administrasi sampai tahap ini karena saya memang bersungguh-sungguh ingin kuliah sampai lulus.”
Wawancara dengan Ketua Program Studi
Kemudian saya masuk ke sesi wawancara dengan pewawancara kedua, yaitu seorang Kolonel dari TNI Angkatan Udara yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknologi Penginderaan.
Wawancara dengan beliau sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris.
Pertanyaannya lebih banyak berkaitan dengan wawasan saya mengenai Teknologi Penginderaan.
Beliau juga meminta saya menjelaskan isi paper yang telah saya buat.
Saya menjelaskan berbagai argumen yang saya tuliskan dalam paper, mulai dari pengertian teknologi penginderaan, alasan memilih Teknologi Penginderaan, hingga pemanfaatan teknologi penginderaan dalam bidang pertahanan.
Semua saya jelaskan dalam bahasa Inggris karena pertanyaan beliau juga menggunakan bahasa Inggris.
Namun, tidak semua pertanyaan dalam bahasa Inggris saya jawab menggunakan bahasa Inggris.
Ada satu jawaban yang justru saya sampaikan dalam bahasa Arab. hmmm
Ketika beliau mengatakan, “Your English TOEFL is quite good,” saya menjawab:
“Alhamdulillah.”
Wawancara dengan Pewawancara Ketiga
Pewawancara ketiga lebih banyak menanyakan latar belakang pribadi dan pengalaman saya.
Mulai dari latar belakang keluarga, pengalaman organisasi, hingga prestasi yang pernah saya capai selama kuliah S1.
Beliau juga menanyakan mengenai riwayat kesehatan.
“Pernah sakit terakhir kapan? Terakhir dirawat kapan?”
Saya menjawab bahwa terakhir kali dirawat adalah ketika berusia sekitar empat tahun karena DBD.
Kemudian beliau bertanya apakah saya memiliki penyakit bawaan.
Saya menjawab dengan jujur bahwa saya memiliki asma.
Beliau kemudian bertanya:
“Kalau kamu terkena udara dingin bagaimana? Nanti kan ada kuliah luar negeri?”
Saya menjawab bahwa saya sudah memahami kondisi tersebut dan dapat mengelolanya dengan melakukan pencegahan.
Saya juga ditanya mengenai hal yang membedakan Unhan dengan universitas lainnya.
Selain itu, saya ditanya mengenai moto Unhan dan diminta menjelaskannya.
Tidak terasa, wawancara akhirnya selesai.
Pewawancara pertama yang pada awalnya terlihat tegas akhirnya tersenyum.
Seperti wawancara pada umumnya, sesi ditutup dengan pertanyaan:
“Ada pertanyaan?”
Saya kemudian bertanya:
“Di Unhan ada UKM atau organisasi mahasiswa, Pak?”
Beliau menjawab:
“Ada lah! Masa tidak ada. Kamu mau masuk BEM, mau demo?”
Saya menjawab sambil bercanda:
“Hehe, tidak, Pak. Maksud saya, di sini ada UKM riset, Pak?”
Beliau menjawab:
“Ya ada. Riset pasti ada. Universitas Pertahanan masa tidak ada. Kamu tahu Tri Dharma Perguruan Tinggi?”
singkat cerita,
Wawancara akhirnya selesai.
Saya keluar dari ruangan.
Belum ada pengumuman mengenai kelulusan wawancara. Namun, panitia sudah meminta peserta mengukur ukuran baju, sepatu, topi, dan jas almamater.
Saya sempat berpikir, semoga ini bukan harapan palsu.
Kan tidak lucu kalau sudah mengukur jas almamater, tetapi ternyata tidak diterima.
Saya kemudian pulang dengan perasaan lebih lega. Karena wawancara ini sangat positif vibes.
Pengumuman Kelulusan
Sekitar satu minggu kemudian, ketika sedang bermain panahan bersama teman, tiba-tiba ada pesan masuk melalui Instagram.
Pesan tersebut berasal dari mahasiswa Teknologi Penginderaan angkatan sebelumnya. BTW Sebelum wawancara, saya memang sempat bertanya mengenai prospek Program Studi Teknologi Penginderaan kepadanya.
Pesannya singkat:
“Hilman, kamu lolos ya. Selamat ya.”
Saya langsung membuka situs resmi Unhan untuk memastikan informasi tersebut.
Alhamdulillah, ternyata benar.
Saya dinyatakan diterima sebagai mahasiswa Universitas Pertahanan.
Setelah itu, saya berhak mengikuti pendidikan dasar bela negara selama kurang lebih satu bulan sebelum akhirnya memulai perkuliahan.
Penutup
Itulah cerita singkat perjalanan saya menuju Universitas Pertahanan.
Perjalanan tersebut dimulai sejak November 2017 dan berakhir dengan diterimanya saya sebagai mahasiswa S2 Unhan dan memulai diksar Belanegara pas Agustus, lanjut Mulai semester awal tahun 2018.
Di Unhan, mahasiswa tidak dapat sambil bekerja karena sistem perkuliahannya bersifat penuh waktu. Karena itu, bagi mereka yang sudah bekerja, pada dasarnya terdapat dua kemungkinan: mengundurkan diri dari pekerjaan atau mengurus surat izin belajar bagi CPNS/PNS.
Bagaimana kehidupan saya selama menjadi mahasiswa di kampus ini?
Nanti saja saya ceritakan. Namun, tidak janji juga akan cerita...