Jurnal Kehidupan

Jumat, 06 Desember 2019

Pangandaran: Sunset di Tanah Tsunami


25 September 2019 pukul 12.30.
Di siang itu, seminar Proposal atau semprop baru saja usai. Seminar proposal ini begitu menguras tenaga dan energi juga memakan hati saat ada pertanyaan di luar dugaan dan saya menjawab dengan bingungnya. Seminar itu berlangsung 2 jam lebih sekian menit. Waktu yang relatif lama dibanding temen-temen seperjuangan. Ada juga temen yang  sejam kelar.
"Fik kok lu udah selesai?"
"iya dong gue mah jawabnya lancar, haaha" Fiki yang mulai jam 9 keluar jam 10.
Semprop ini berbanding terbalik dengan waktu tes wawancara di UNhan, dalam waktu 15 menit saya berhasil lolos wawancara. Sementara temen saya lainnya dari TP hampir 1 jam.
Semprop usai, derasnya revisi-revisi yang direkam pada sebuah handphone siappp didengarkan. Sungguh lucu kalau mendengar lagi bagaimana saya menjawab pertanyaan2 dosen. Sedikit membingungkan tapi banyak juga kesalahan-kesalahan .Komposisi rekaman terdiri dari 90% masukan dosen,  8% sanggahan saya, dan sisanya, 2% hening. 
Seminar Proposal yang Berlangsung selama 2 Jam 9 menit

Dari revisi tersebut, intinya pembimbing 1 mengintruksikan harus merubah metode penelitian dari kuantitatif murni, jadi mixed methods. Intinya, saya harus mampir ke pangandaran. Dan intinya, bingung bagaimana mengubah metode yang sudah di desain serapih yang saya rencanakan, diubah menjadi mixed methods. 
Beberapa hari berikutnya, tibalah  waktu saya untuk pergi ke Pangandaran menggunakan kereta. Kereta  supercepat  membawa saya dari stasiun pasar senen Jakarta menuju Pangandaran.  Namun sangkning cepatnya, bukannya ke Pangandaran, keretanya  bablas ke Stasiun Purwokerto, tempat kuliah S1.Ya sekitar 4 tahun 3bulan saya menghabiskan waktu di Purwokerto.
Saya mampir terlebih dahulu sambil bernostalgia disana. Sebentar, paling cuma 10 hari.wkwk Tempat pertama yang saya kunjungi tentunya tempat saya menimba ilmu, yakni sekretariat UKM PSHT Unsoed.
"tidak ada obat paling mujarab dari kerinduan selain diadakannya pertemuan"
Dari pertemuan itu, setidaknya rindu itu dilenyapkan oleh mata  yang melihat secara langsung kondisi Purwokerto.
 Dari zaman semester 1 sampai saya sarjana di semeter 9, UKM tersebut yang menyebabkan saya merasa kuliah tanpa harus masuk kelas.
Tempat yang berhasil saya kunjungi waktu di Purwokerto, yakni Pendopo Unsoed, Masjid Mafaza,  Masjid Jenderal Soedirman, tempat-tempat angkrigan, burjo2, ramesan, baturaden,  dll. Sayangnya, saya tidak sempet ke Kampus MIPA Unsoed, tempat yang menjadi saksi kerasnya belajar fisika kuantum, mekanika, optoelektronika, dan mata kuliah lainnya yang telah saya lupakan. 
sepuluh hari berlalu. Ini saatnya saya bergegas kembali pergi menuju tempat yang sesungguhnya. Dari terminal Purwokerto, saya bergegas menuju Pangandaran.
Di Pangandaranpun saya tiba.  Beberapa jam kemudian, saya disambut  dengan  gempabumi. wkwk. Gempabumi itu bisa berpotensi tsunami bisa enggak. Entah kebetulan, penelitian saya juga tentang gemabumi dan tsunami.. Jadi saya merasa disinilah ujian yang sebenernya terjadi.  Ternyata penelitian ini cukup efektif dalam menghadapi gempabumi.
Setelah selesai gempa, alhamdulillah tidak ada tsunami.
Saya menghabiskan waktu di Pangandara cukup lama, sekitar 4 hari.  Aktivitas saya di Pangandaran dihabiskan untuk berkunjung ke daerah Wisata  sambil ngobrol2 tentang tsunami 2006 yang pernah terjadi di Pangandaran.
 Orang-orang yang saya ajak ngobrol tentunya orang-orang asli Pangandaran yang pernah ngerasain tsunami, bukan bukan turis asing yang jelas.
Sambil nongkrong di warung kopi, makan di warung, ngobrol2 dengan pemilik penginapan, dari karakteristik cara bicaar mereka emang ada yang terbuka, ada yang pengen nangis pas cerita, ada yang ketawa-ketawa, ada yang singkat jawabnya abis itu pergi,, dan macem2.
Dari beberapa cerita mereka tentang tsunami, dapat saya rangkum menjadi suatu bentuk cerita, yang jelas derajat cerita ini shahih karena sudah melewati tahap validasi, hehe.

Jadi cerita dari data kualitatif itu seperti ini.
Tsunami Pangandaran 17 Juli 2006:
Waktu 2006, Kabupaten Pangadaran itu belum ada. Adanya Kabupaten Ciamis dimana Pangandaran masuk dalam teritorial Kabupaten Ciamis. Kabupaten pangandaran sendiri baru ada tahun 2012. Presiden SBY memutuskan agar Pangandaran memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis lewat Undang-undangnya . Dan akhirnya terbentuklah Kabupaten Pangandaran yang terdiri dari 10 Kecamatan.
Kita mulai cerita tsuaminya. Tsunami di Pangandaran diawali oleh gempabumi. Secara kronologis, sekitar jam 15.19 pada 17 Juli 2006 itu terjadi gempabumi sebesar 7.7 SR, tapi gempabuminya gak terasa kata warga Pangandaran. Ada yang bilang terasa tapi kecil. Dan sebagian besar warga Pagandaran itu belum pernah ngerasain yang namanya tsunami. Mungkin hampir semuanya.
"gempabumi waktu itu gak terasa mas," satu contoh warga dari Pangandaran
Jam 16.00..waktu dimana matahari tidak terasa terik. Waktu itu adalah waktu yang sempurna untuk main di pantai setelah sholat ashar.  Setiap warga memiliki aktivitasnya sendiri-sendiri. Bahkah jam 16.00 adalah waktu yang tepat untuk menuggu senja lalu melihat sunset di Pangandaran. Nikmat dan cerah suasana saat itu.  
Tiba-tiba gelombang laut yang tingginya abnormal datang. Fenomena yang tidak biasa. Gelombang terjadi 3 kali dimana gelombang terakhir adalah yang terbesar. Karena besarnya, sampai masuk dalam teritorial manusia. Tsunami itu terjadi setinggi kurang lebih 5 meter menurut beberapa penelitian.
Dari arah laut, kapal-kapal nelayan beberapa ada yang terbalik, ada juga yang ikut gelombang tsunami sampai menghantam rumah warga.
 Tsunami terjadi begitu mendadak. Tidak ada peringatan dini akan adanya gempa yang berpotensi tsunami. BNPB sendiri baru ada tahun 2008. Sementara BMKG sudah ada, tetapi masih dalam kendala keterbatasan diseminasi informasi. Pada waktu itu, Nokia dominan dalam menguasai dunia KeHapean. Dan internet tidaklah secepat zaman sekarang. Jadi bisa dipastikan belum ada yang namanya smartphone dengan kualitas sinyal 5G. .  
Ketika tsunami terjadi, warga langsung panik.Iya lah panik. Gak nyantai kaya di pantai.

Kepanikan warga dapat tergambar dalam beberapa kasus. Terdapat warga yang sedang memanjat pohon kelapa, setelah mengetahui akan datang tsunami warga tersebut langsung lompat sambil peluka sama pohon kelapa tanpa memijak terlebih dahulu. Karena hal tersebut, badan pemanjat tersebut mengalami lecet bagian dada hingga perut.
 Kasus lainnya, ada warga lari telanjang pas pada teriak Tsunami.  Mungkin dari kamar mandi dan lupa pake anduk.
Berapa warga berhasil terhindar dari paparan tsunami.
Beberapa warga tidak berhasil terhindar dari paparan tsunami,tapi berhasil selamat dengan luka-luka di sekujur tubuh.
Contoh kronologi dari luka tersebut, ada warga yang sedang berada di atas kapal.  Kapal sedang bersandar di Pantai. Pas tsunami, orang itu gak sempet kabur dan tetap berada di atas kapal. Akibat tsunami, kapal tersebut terbawa arus sampai akhirnya ada tiang di depan. Kapal menghantam tiang. Kapal hancur dan tersisa puing2.
Setelahnya, orang tersebut terbawa arus laut. Parahnya, terdapat benda tajam berupa patahan balok kayu di depan orang tersebut. Naas, orang dan patahan kayu saling bentrok. Benda tajam tersebut langsung merobek dan menembus kaki dari korban.
Untungya, ada tiang yang kuat yang tidak terbawa arus. Korban langsung berpegangan tiang tersebut tanpa memikirkan balok kayu yang tertacap di kakinya.
Untuk masalah pegangan benda kuat, kejadian ini hampir mirip dengan apa yang dirasai  oleh vokalis seventeen waktu di Banten. Dia berhasil selamat karena berpengangan pada suatu media. Beberapa warga juga ada yang selamat karena berpengangan dengan media yang kuat.
Lain lagi dengan nelayan dari Pangandaran yang ada di tengah laut. Jadi nelayan yang sedang mencari ikan di tengah laut sama sekali tidak mengetahui akan adanya tsunami. Itu artinya mereka tidak merasakan adanya tsunami. Ketika kembali ke darat, mereka kira mereka salah mendarat. Ternyata itu adalah rumah mereka yang habis kena tsunami.
Itu merupakan beberapa kisah nyata dari warga yang berhasil selamat. Di sisi lain, sekitar 500 warga lainnya bernasib tidak sama. Mereka dipanggil Yang Maha Kuasa saat kejadian itu. Jasad-jasad ditemukan. Beberapa orang hilang.
Dapat diambil beberapa faktor dari penyebab jumlah korban jiwa. Selain karena faktor ketidaktahuan akan adanya tsunami,  waktu tsunami juga berbarengan dengan beberapa acara di daerah Pesisir Kabupaten Pangandaran. Salah sataunya terdapat pelatihan di Lapangan Dinas Sosial Pangandaran yang diikuti oleh berbagai kalangan.
Ketika tsunami datang, warga-warga tersebut terjebak pada lapangan yang dikelilingi tembok setinggi tiga meter.  Akhirnya, kematian  di Lapangan Dinas Sosial tak bisa dihindarkan.
Selain dampak korban jiwa dan material, terdapat pula  dampak dari psikologis masyarakat yang merasakan terjangan tsunami dan berhasil selamat. Hal tersebut disebabkan karena mereka melihat langsung besarnya ombak tsunami yang menewaskan rekan atau keluarga.
Dampak psikologis lebih besar dirasakan oleh anak-anak. Menurut pengakuan warga yang anaknya mengalami tsunami dan berhasil selamat, anak tersebut mengalami trauma yang besar. Trauma tsunami tersebut menyebabkan anak tersebut tidak ingin melihat laut.  Selain itu, anak tersebut lumpuh akan pelajaran perhitungan dasar seperti “satu tambah satu” hingga beberapa tahun. Padahal anak tersebut berumur sudah berumur delapan tahun atau berada pada kelas tiga Sekolah Dasar. Cara menyembuhkan trauma tersebut dengan pergi ke sawah ataupun gunung.
Saya jadi ingat cerita seseorang waktu kejadian tsunami Banten. Jadi waktu itu ada acara di Banten yang bertepatan denga tsunami. Seorang suami ngajak istrinya untuk ikut acara tersebut, namun sang istri menolak. Tapi karena paksaan, akhirnya istri tersebut ikut.
Ketika acara tersebut, tsunami datang dan menyambar pasangan suami istri tersebut. Sang suami berhasil selamat dari gelombang tsunami, namun sang istri,  adalah salah satu korban jiwa dalam kejadian tsunami tersebut.
Mungkin kejadian itu adalah penyesalan terbesarnya. Seandainya dia tak mengajak istri, pasti istrinya bakal tetep ada sampai sekarang. Akibat kejadian itu, sang suami depresi berat. bahkan “hampir gila”, kata orang yang ceritain cerita itu ke saya. 
Banyak hikmah dari kejadian itu. Tapi intiya, seluruh tragedi yang menimpa kita, semua tidak terlepas dari kehendaknya.

Share:

Jumat, 29 November 2019

Surau Khatulistiwa

Apa yang kupikirkan ketika sampai di Kalimantan?
Bukan tentang anakonda atau rimba yang jauh,
melainkan Kapuas yang mengalir tenang,
membawa bahasa Melayu, kehidupan,
dan cerita warga yang menyambung hari dari sungai.

Di sudut Pontianak, surau di bawah khatulistiwa
membuka pintu pada wajah kota yang sederhana.
Bahasa, tradisi, dan langkah-langkah manusia
menyatu dalam udara yang perlahan
membuatku ingin tinggal, meski hanya untuk memahami.

Lalu pikiranku berlayar ke masa yang telah lama hilang,
ke Pontianak ketika jejak Belanda masih membekas.
Bagaimana wajah kota kala itu?
Mungkin Kapuas telah menyaksikan semuanya
dan hingga kini, diam-diam, masih menyimpan ceritanya.


Share:

Sabtu, 01 Desember 2018

Seleksi Beasiswa S2 Universitas Pertahanan sampe lolos


Bagi teman-teman yang belum mengetahui lokasi Universitas Pertahanan (Unhan), kampus tersebut berada di Kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC), Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Silakan mencarinya melalui Google Maps, pasti akan ditemukan. Jaraknya sekitar 50 km dari rumah saya di Cililitan, Jakarta Timur.

Saya pernah mencoba memesan Go-Jek menuju Unhan. Namun, aplikasi tersebut justru memberikan notifikasi, “Biar driver tidak masuk angin, jarak maksimal kami 25 km, ya.” -.-‘

Dahulu saya juga pernah mencoba memesan Go-Jek dari Jakarta dengan lokasi tujuan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Ternyata juga tidak bisa. Btw Unsoed di Jawa Tengah. wkwk.

Jadi, bagi yang ingin mudik dari Jakarta ke Jawa Tengah, jangan mencoba memesan perjalanan menggunakan aplikasi Go-Jek karena kemungkinan besar tidak bisa. Namun, kalau dari Jawa Tengah ke Jakarta, saya juga tidak tahu apakah bisa atau tidak. 

Jokes nya garing banget ya.... mungkin yang baca juga ga tau gue lagi nge jokes. 

Udahlah

kita lanjut aja cerita seleksinya. kepanjangan ya intronya

Sekilas Tentang Perjalanan Menuju Unhan

Berdasarkan pengalaman saya mengikuti tes dan seleksi masuk Unhan, berikut merupakan tahapan demi tahapan yang saya lalui. Semoga pengalaman ini dapat menjadi referensi sekaligus tips bagi teman-teman yang ingin mengikuti seleksi beasiswa S2 Universitas Pertahanan.

TAHAP 1/4: SELEKSI ADMINISTRASI

26 November 2017, Lokasi saya di Unsoed, Purwokerto, Kab. Banyumas, Jawa Tengah.

Btw, status saya masih mahasiswa S1.

Tapi masa perkuliahan S1 sudah selesai dan yudisium juga telah dilaksanakan sekitar lima hari sebelumnya. Saya hanya tinggal menunggu wisuda, ijazah, transkrip nilai, dan berbagai dokumen lainnya.

Namun, ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya: setelah lulus, saya akan melanjutkan ke mana?

Orang tua menyarankan saya menjadi PNS karena menurut mereka masa tua seorang PNS lebih terjamin. Namun, saat itu saya masih belum terlalu tertarik untuk langsung mengikuti tes CPNS. Saya justru ingin bekerja di luar kota, di mana pun itu.

Saat itu saya belum terpikir untuk melanjutkan S2. Kalaupun ingin melanjutkan S2, saya berharap bisa mendapatkan beasiswa. Saya berpikir, S1 saja sudah membebani orang tua, masa untuk S2 masih menggunakan uang orang tua lagi.

Salah satu beasiswa yang sempat saya pertimbangkan adalah LPDP. Saya pernah membaca informasi dan menonton beberapa video mengenai beasiswa LPDP. Program tersebut terlihat menarik. Namun, saat itu pendaftaran beasiswa LPDP belum dibuka.

Selain itu, menurut informasi yang saya dengar, tes TOEFL sebagai salah satu persyaratan beasiswa LPDP membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal tersebut membuat saya mengurungkan niat untuk mengikuti beasiswa LPDP.

Sampai akhirnya saya melihat informasi mengenai penerimaan mahasiswa S2 Unhan di sebuah grup WhatsApp.

Awalnya saya bahkan tidak mengetahui apa itu Unhan dan di mana lokasinya. Namun, dari berbagai informasi beasiswa S2 maupun lowongan pekerjaan yang saya lihat saat itu, beasiswa Unhan merupakan pilihan yang paling menarik dan paling ideal bagi saya.

Salah satu alasan utamanya adalah karena beasiswa tersebut bersifat penuh.

Mulai dari biaya kuliah yang gratis, adanya asrama, makan tiga kali sehari, uang saku bulanan, hingga biaya tesis yang juga ditanggung oleh Unhan. Belum lagi program Kuliah Kerja Dalam Negeri dan Kuliah Kerja Luar Negeri yang juga gratis dan bahkan mendapatkan uang saku.

Sebenarnya ada berbagai pilihan beasiswa S2 di luar negeri. Namun, saat itu saya belum percaya diri dengan kemampuan saya sendiri. Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan, mulai dari kemampuan bahasa, makanan, tekanan lingkungan, hingga tantangan akademik yang harus dihadapi.

Sementara itu, seleksi masuk Unhan juga tidak dipungut biaya. Terdapat empat tahap seleksi, yaitu:

  1. Seleksi administrasi.

  2. Tes TOEFL dan Tes Potensi Akademik (TPA).

  3. Tes psikologi.

  4. Tes wawancara.

Seluruh proses seleksi tersebut ditanggung oleh Unhan. Biaya yang mungkin muncul hanya berasal dari proses melengkapi persyaratan administrasi pada tahap awal, seperti surat keterangan sehat, bebas tato, dan bebas narkoba dari rumah sakit pemerintah. Saat itu, total biaya yang saya keluarkan sekitar Rp300.000.

Saya kemudian menghubungi orang tua dan menyampaikan keinginan untuk mencoba masuk Unhan. Orang tua memberikan dukungan dan berpesan agar saya terus maju serta tidak mudah menyerah.

Dengan tekad tersebut, saya melakukan pendaftaran calon mahasiswa baru melalui situs resmi Unhan.

Saya kemudian melihat berbagai program studi yang tersedia. Dari seluruh pilihan tersebut, akhirnya saya tertarik dengan Program Studi Teknologi Penginderaan.

Apa itu Teknologi Penginderaan? Mengapa saya memilih program studi tersebut?

Kalau diceritakan secara lengkap, pembahasannya akan terlalu panjang. Intinya, tulisan ini lebih berfokus pada lika-liku perjalanan saya mengikuti seleksi masuk Unhan.

Persiapan Berkas Administrasi

Langkah pertama adalah mengumpulkan berbagai berkas persyaratan untuk pendaftaran secara daring.

Persyaratan yang harus dipenuhi pada proses registrasi antara lain:

  • Curriculum Vitae (CV);

  • dokumen akreditasi program studi;

  • fotokopi ijazah yang telah dilegalisir;

  • fotokopi transkrip nilai yang telah dilegalisir;

  • paper mengenai persepsi terhadap program studi yang dipilih dalam bahasa Inggris;

  • SKCK;

  • fotokopi akta kelahiran yang telah dilegalisir;

  • fotokopi KTP yang telah dilegalisir;

  • fotokopi Kartu Keluarga yang telah dilegalisir;

  • surat rekomendasi dari Dekan atau Ketua Jurusan S1 bagi fresh graduate;

  • surat keterangan sehat;

  • surat keterangan bebas narkoba;

  • surat keterangan bebas tato dari rumah sakit pemerintah; dan

  • foto menggunakan jas berwarna hitam.

Seluruh dokumen tersebut harus dipindai untuk diunggah pada proses registrasi daring. Selain itu, seluruh dokumen juga harus disiapkan sebanyak empat rangkap untuk dibawa pada saat proses verifikasi.

Sebelum sibuk mengurus berkas pendaftaran Unhan, saya terlebih dahulu harus memastikan seluruh urusan wisuda S1 selesai.

Masa kita sibuk mengumpulkan berkas masuk Unhan, tetapi lupa mengurus berkas wisuda? Tentu akan menjadi masalah kalau sudah diterima Unhan tetapi status S1 belum selesai. Masa wisuda S1 digabung dengan S2, trus sekalian dengan S3? -__-

Setelah wisuda selesai, ketika sebagian besar orang punya bercandaan sebuah pertanyaan “setelah wisuda kapan menikah?”, saya justru memikirkan bagaimana membagi waktu antara belajar TOEFL dan mengumpulkan berbagai berkas administrasi.

Saya kemudian menyusun roadmap mengenai apa saja yang harus dilakukan.

Pertama, saya membuat CV. Karena sebelumnya sudah memiliki CV, saya hanya perlu memperbaiki dan menambahkan beberapa informasi yang diperlukan.

Selanjutnya, karena dalam seleksi Unhan terdapat tes TPA dan TOEFL, saya harus kembali belajar dengan lebih serius agar mendapatkan nilai maksimal.

Pada tes TOEFL sebelumnya, saya memperoleh skor 417, karna emang ga belajar samsek bahkan ga tau soal toefl waktu itu gimana.... 

Nilai tersebut memang cukup untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan dari Unsoed, tetapi masih  terlalu jauh dari standar yang diperlukan untuk lolos seleksi Unhan.

Karena itu, saya harus belajar lebih tekun.

Saya membeli buku TOEFL setebal lebih dari 650 halaman di Gramedia, di salah satu mal dekat Alun-Alun Purwokerto. Harganya sekitar Rp150.000.

Menurut saya, buku tersebut cukup murah karena dapat digunakan dalam jangka panjang, terutama bagian grammar. Perkembangan grammar bahasa Inggris tentu tidak secepat perkembangan teknologi. Jadi buku ini ya mungkin 10 tahun lagi buku ini masih relate......

Kecuali suatu hari terjadi evolusi bahasa, misalnya bahasa Inggris dijajah Arab Saudi sehingga bahasa internasional berubah, kemudian TOEFL juga berevolusi menggunakan bahasa Arab. Wei apaan sih....

Walaupun tes TOEFL masih sekitar dua setengah bulan lagi, saya sudah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari.

Saya membuat rencana belajar selama dua setengah bulan. Materinya mulai dari listening, grammar, reading, hingga menghafalkan kosakata yang belum saya ketahui.

Saya juga terus memotivasi diri sendiri.

Bahkan ketika malam hari, di sekretariat PSHT Unsoed, ketika seharusnya jadwal latihan, saya justru meninggalkan latihan untuk belajar grammar. Saya datang hanya untuk belajar grammar, meskipun tentu saja tetap ada saja dulur--dulur yang mengganggu.

Selain belajar, saya juga harus mengurus beberapa dokumen administrasi, salah satunya surat rekomendasi dari Dekan FMIPA atau Ketua Jurusan Fisika.

Akhirnya saya memilih meminta rekomendasi kepada Ketua Jurusan Fisika karena prosesnya lebih mudah.

Ketua Jurusan Fisika Unsoed saat itu adalah Pak Wahyu Widanarto. Beliau baru saja meraih gelar profesor dan menjadi guru besar fisika pertama di Unsoed. Meskipun demikian, beliau tetap sangat baik dan tidak sombong.

Setelah tanda tangan rekomendasi diperoleh, saya melanjutkan proses administrasi lainnya.

Fotokopi KTP, KK, akta kelahiran, dan dokumen lainnya harus dilegalisir. Saya juga harus mengurus SKCK. Seluruh dokumen tersebut harus diurus sesuai dengan domisili saya.

Artinya, dari Purwokerto saya harus pulang ke Jakarta sambil membawa buku TOEFL.

Proses legalisir KTP, KK, dan akta kelahiran dilakukan di tempat yang berbeda-beda. Untuk membuat SKCK, saya bahkan harus datang sekitar pukul lima pagi untuk mengambil nomor antrean, kemudian kembali lagi sekitar pukul delapan.

Di Jakarta, saya juga membuat surat keterangan sehat dan bebas narkoba di RS POLRI dengan biaya sekitar Rp300.000.

Mengurus seluruh administrasi tersebut memang membutuhkan perjuangan fisik. Saya harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, belum lagi harus menghadapi antrean dan menunggu dengan sabar.

Setelah seluruh administrasi selesai, saya kembali ke Purwokerto untuk mengambil ijazah sekaligus mempersiapkan kepulangan dari kos.

Perjalanan tersebut menjadi perjalanan terakhir saya ke Purwokerto dalam masa perkuliahan S1.

Saya berada di ujung senja Purwokerto.

Mungkin itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat itu. Sekitar satu bulan lagi saya akan meninggalkan Purwokerto. 4 tahun yang penuh cerita....

Yudisium dan wisuda telah terlewati. Tinggal satu hal terakhir yang harus diselesaikan: mengambil ijazah dan fotokopi legalisir.

Sambil menunggu ijazah selesai, saya terus belajar TOEFL.

Saya juga membuat paper dalam bahasa Inggris mengenai persepsi terhadap program studi yang dipilih, dengan panjang maksimal dua halaman.

Langkah awal yang saya lakukan adalah mencari berbagai referensi mengenai teknologi penginderaan dari e-book, jurnal, skripsi, maupun tesis.

Saya menyusun paper tersebut mulai dari perkenalan diri, alasan memilih Program Studi Teknologi Penginderaan, penjelasan mengenai teknologi penginderaan, hingga persepsi saya mengenai perkuliahan di program studi tersebut.

Awalnya saya menulis dalam bahasa Indonesia, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.

CV yang sebelumnya sudah saya buat sebelum wisuda juga saya perbaiki kembali, baik dari sisi tata letak maupun isinya.

Pada pertengahan Januari 2018, ijazah beserta fotokopi yang telah dilegalisir akhirnya selesai.

Artinya, saya sudah tidak memiliki keperluan lain di Purwokerto. Semua urusan telah selesai.

Saatnya saya kembali ke kampung halaman, Jakarta.

Seluruh berkas telah lengkap dan sudah saya pindai.

Saya kemudian mengunggah dokumen satu per satu.

Alhamdulillah, proses registrasi daring akhirnya selesai.

Sekarang saya hanya perlu menunggu pengumuman apakah saya lolos seleksi administrasi dan dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes TOEFL dan TPA.

TAHAP 2/4: VERIFIKASI ADMINISTRASI, TES TOEFL, DAN TES TPA

Di Jakarta, saya melanjutkan persiapan belajar TOEFL.

Namun, saya menyadari bahwa terlalu fokus pada TOEFL juga tidak baik karena TPA tidak boleh dianggap remeh.

Akhirnya saya memutuskan membeli buku TPA. Waktu itu saya menitip kepada adik untuk membelinya di Gramedia. Harganya sekitar Rp135.000, kalau tidak salah.

Menurut saya, buku tersebut juga dapat digunakan dalam jangka panjang, misalnya jika suatu saat ingin mengikuti tes lainnya seperti seleksi CPNS.

Jangan pernah meremehkan tes TPA.

Memang benar bahwa Tes Potensi Akademik (TPA) pada dasarnya mengukur potensi kita dalam bidang akademik dan materi yang diberikan merupakan materi dasar.

Namun, semakin sering kita berlatih soal TPA, otak kita akan semakin terbiasa. Hal tersebut berdampak pada meningkatnya kecepatan dalam menyelesaikan soal.

Pada awal latihan, saya bahkan tidak mampu menyelesaikan 40 soal dalam waktu 25 menit. Namun, setelah semakin sering berlatih, saya menjadi lebih cepat dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Dua setengah bulan berlalu.

Pengumuman peserta yang lolos seleksi administrasi akhirnya diumumkan.

Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos seleksi administrasi.

Jarak Pengumuman lolos seleksi administrasi ke Tes Toefl sangat pendek, cuma 3 hari.  

Dan hari yang paling saya tunggu-tunggu: tes TOEFL.

Inilah tes yang selama dua setengah bulan terus saya pikirkan.

Hasil dari perjuangan belajar selama dua setengah bulan akan terlihat dalam waktu sekitar dua jam.

Belajar selama dua setengah bulan tentu tidak mudah. Ada tekanan dan harapan agar hasil ujian dapat memuaskan.

Malam sebelum tes TOEFL, saya hanya melakukan latihan ringan, terutama listening dan sedikit membaca kembali materi grammar.

Pengalaman Mengikuti Tes TOEFL

Tes TOEFL yang saya ikuti pada dasarnya sama seperti tes TOEFL pada umumnya. Yang saya maksud bukan jenis soalnya, tetapi komposisi atau pembagian soalnya.

Terdiri atas:

  • 40 soal listening;

  • 25 soal grammar/written expression; dan

  • 50 soal reading.

Ketika tes TOEFL di Unhan dimulai, bagian introduction pada listening terasa sangat lama.

Saya sempat bengong sambil melihat soal. Tiba-tiba, saya menyadari bahwa soal sudah memasuki nomor tiga.

Percayalah, satu soal listening yang terlewat saja sudah cukup membuat mental jatuh. Apalagi sampai tiga soal.

tapi yaudah, kosongkan fikiran, fokus, konsen 

Yah....

Untuk bagian grammar/structure/written expression, terdapat 25 soal, tetapi bobotnya cukup besar. Bagian ini juga memiliki banyak jebakan. Tapi Kita sudah siasati.

Kemudian bagian terakhir adalah reading yang terdiri atas 50 soal dan merupakan bagian yang cukup melelahkan.

Dalam mengerjakan reading, menurut pengalaman saya, hal yang penting adalah membaca pertanyaan terlebih dahulu, kemudian mencari jawabannya di dalam teks.

Jika kita menerjemahkan seluruh isi teks secara keseluruhan, waktu akan habis karena terlalu lama membaca. Hal tersebut juga pernah dijelaskan oleh guru bahasa Inggris saya dahulu.

Tidak terasa, waktu tes TOEFL akhirnya habis.

Setelah TOEFL selesai, tes TPA menunggu.

Sebelum tes TPA, seperti biasa saya melakukan belajar ringan dan santai pada malam harinya.

Saat mengerjakan TPA, alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Soal yang muncul mulai dari sinonim, antonim, tes numerik, hingga logika.

Terutama pada bagian sinonim dan antonim, saya merasa usaha menghafalkan kosakata dari buku tidak sia-sia. Hampir semuanya terasa familiar.

Begitu juga dengan tes numerik yang cukup menyita waktu. Karena sudah terbiasa berlatih, saya merasa pengerjaannya menjadi lebih ringan.

Hal yang sama juga saya rasakan pada bagian tes logika.

Tes TOEFL dan TPA akhirnya selesai.

Alhamdulillah, ada rasa lega di hati.

Biasanya saya belajar minimal empat jam setiap hari. Setelah tes selesai, saya tidak lagi belajar seintensif sebelumnya.

Saatnya beristirahat dan menunggu pengumuman.

TAHAP 3/4: TES PSIKOLOGI

Kapan pengumuman kelulusan tes TPA dan TOEFL?

Ternyata masih sekitar tiga setengah bulan lagi.

Karena pengumuman kelulusan masih cukup lama, daripada menganggur, saya memutuskan mencari pekerjaan melalui JobStreet.

Awalnya, seorang teman memberikan informasi mengenai lowongan pekerjaan sebagai guru les di sekitar UI.

Saya mencoba melamar sebagai guru matematika dan bahasa Inggris.

Tahap pertama adalah mengerjakan soal-soal UN yang cukup banyak. Alhamdulillah, saya berhasil lolos tes pertama.

Tes kedua adalah microteaching, yaitu mengajar di hadapan pengelola lembaga les.

Karena belum memiliki persiapan mengenai microteaching dan belum memiliki pengalaman mengajar, akhirnya saya gagal pada tahap tersebut.

Saya pulang dengan wajah melas, tetapi tegar kok... iya tegar.....

Kemudian saya menemukan lowongan pekerjaan sebagai 3D & Graphic Designer di JobStreet.

Walaupun latar belakang pendidikan saya adalah fisika dan tidak terlalu berkaitan dengan pekerjaan 3D Designer, saya memiliki sedikit kemampuan di bidang tersebut.

Saya kemudian melamar ke beberapa perusahaan yang membuka lowongan 3D Designer.

Keesokan harinya, ketika sedang bermain PS2, tiba-tiba ada telepon masuk.

“Siang, apa betul Saudara Hilman Putra yang melamar di PT.....?”

“Ya, betul. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya melihat CV Anda. Besok bisa datang ke kantor?”

“Oh, ya, insyaallah. Kalau boleh tahu, jam berapa? Kemudian alamatnya di mana?”

“Nanti saya WhatsApp. Ada WhatsApp, kan?”

“Oh, ya, ada.”

Keesokan harinya saya datang untuk mengikuti interview.

Singkat cerita, saya diterima bekerja di perusahaan tersebut.

Saya bekerja cukup keras, bahkan sering lembur. Berangkat pagi dan baru sampai rumah setelah magrib.

Walaupun pekerjaan tersebut bukan tujuan utama saya, saya tetap berusaha berkomitmen dan menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

Tiga bulan berlalu tanpa terasa.

Akhirnya, pengumuman hasil tes TOEFL dan TPA keluar pada Jumat sore.

Dan....hoore.....Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos tes TOEFL dan TPA serta berhak melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes psikologi. Bulan Puasa yang penuh berkah....

Empat hari sebelum tes psikologi, saya mengikuti dauroh dan pesantren kilat di Bogor diajak temen SMA. haha

Kebetulan saat itu sedang bulan Ramadan. Saya diajak oleh teman SMA mengikuti pesantren kilat. Kami berangkat Jumat malam dan kembali Minggu malam.

Di sana saya pura2 jadi orang alim karna ikut-ikutan. Banyak berdoa, terutama pada waktu-waktu yang dianggap mustajab, seperti menjelang berbuka puasa, antara azan dan iqamah, sepertiga malam saat melaksanakan salat tahajud, denger ceramah walau ketiduran, dll...

Menurut saya, tes psikologi tidak hanya membutuhkan persiapan akademik, tetapi juga kesehatan psikis.

Saya berpikir bahwa hal yang paling penting adalah mempersiapkan EQ. Untuk menunjang EQ, menurut saya diperlukan pula perbaikan SQ.

Saya memandang EQ berkaitan dengan SQ. Salah satu cara memperbaiki SQ adalah dengan memperbanyak refleksi, berpikir, dan merenung.

Walaupun demikian, saya tetap belajar dan mencari contoh soal psikotes di internet.

Hari Tes Psikologi

Hari pelaksanaan tes psikologi akhirnya tiba.

Setelah sahur saya langsung berangkat dari Jakarta Timur menuju Sentul, Bogor.

Lokasi tes bukan di gedung Unhan, melainkan di gedung BNPB.

Tes yang dilaksanakan saat itu meliputi tes koran, tes Pauli, tes pernyataan, rencana tesis, serta berbagai penilaian mengenai keseriusan peserta untuk masuk Unhan.

Tes dimulai pukul 08.00 dan selesai sekitar pukul 14.00.

Setelah selesai, rasanya otak sudah benar-benar lelah haus.

Bibir sampai kering dan pecah-pecah. Kulit bibir yang terkelupas bahkan sampai terlihat merah.

Untungnya, setelah tes selesai kami mendapatkan snack.

Saya memakannya dengan lahap.








di rumah btw. pas adzan

TAHAP 4/4: TES WAWANCARA

Tes wawancara dilaksanakan setelah Lebaran.

Jarak waktunya sekitar satu bulan lebih setelah tes psikologi, meskipun saya sudah tidak terlalu ingat secara pasti.

Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos tes psikologi dan berhak melanjutkan ke tahap terakhir, yaitu wawancara.

Jika tahap ini berhasil dilewati, saya berhak mengikuti pendidikan dasar bela negara dan kemudian melanjutkan perkuliahan sebagai mahasiswa pascasarjana di Unhan.

Salah satu berkas yang perlu dipersiapkan adalah paper berbahasa Inggris mengenai persepsi terhadap program studi yang dipilih. Paper tersebut sebelumnya sudah dibuat sebagai bagian dari persyaratan administrasi.

Saat memeriksa kembali paper tersebut, saya baru menyadari betapa buruknya grammar yang saya gunakan.

Ternyata belajar TOEFL mati-matian selama dua setengah bulan memberikan dampak juga.

Saya kemudian mempelajari berbagai hal mengenai Unhan, mulai dari apa itu Unhan, visi dan misinya, moto Unhan, hingga pengertian bela negara.

Saya juga membuat daftar kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan oleh pewawancara.

Hari Wawancara

Hari wawancara akhirnya tiba.

Saya harus mengantre dan mendapatkan nomor urut tertentu.

Entah mengapa, pada hari itu saya merasa lebih tegang dibandingkan biasanya.

Bukan karena takut berbicara di depan pewawancara, tetapi karena wawancara merupakan tahap terakhir yang menentukan.

Jika gagal pada tahap ini, rasanya perjuangan sejak November 2017 hingga Juli 2018 akan sia-sia.

Tekanan tersebut cukup mengganggu pikiran saya.

Saya kemudian mencoba membangun mindset:

“Tenang. Nervous tidak akan menyelesaikan masalah.”

Setidaknya, kalimat tersebut sedikit membantu.

Antrean wawancara cukup panjang.

Saat itu, ratusan calon mahasiswa dibagi menjadi sekitar 10 kelas, kalau tidak salah.

Sebenarnya jumlah peserta di setiap kelas tidak terlalu banyak. Namun, setiap orang diwawancarai sekitar 45 menit.

Karena antreannya cukup panjang, saya justru semakin ingin segera diwawancarai agar bisa langsung pulang dan tidur.

Saya menunggu sejak pukul 08.00 dan akhirnya mendapatkan giliran sekitar pukul 11.55.

Akhirnya saya diwawancarai juga.

Namun, panitia memutuskan untuk melaksanakan ishoma terlebih dahulu dan wawancara dilanjutkan kembali pada pukul 13.30.

Tepat pukul 13.30, akhirnya saya masuk ke ruang wawancara.

Ada tiga orang pewawancara.

Pewawancara pertama adalah seorang Laksamana Muda (Bintang 2 Angkatan Laut), Beliau Dekan Fakultas Keamanan Nasional. 

Pewawancara kedua adalah seorang Kolonel yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknologi Penginderaan.

Pewawancara ketiga.... saya sudah lupa namanya.

Pewawancara pertama memiliki pembawaan yang sangat tegas dan pada awal wawancara terasa cukup galak.

Beberapa pertanyaan yang saya ingat antara lain:

  • Apa itu ISIS?

  • Apa itu HTI?

  • Apa pengertian bela negara?

  • Jika negara kita diserang oleh negara asing, apa reaksi Anda?

  • Mengapa tidak memilih S2 di Unsoed atau universitas lainnya?

Untuk pertanyaan terakhir, saya menjawab dengan jujur dan tegas:

“Karena di Unhan gratis, Pak.”

Karena beliau Dekan Keamanan Nasional beberapa pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan wawasan kebangsaan serta kemungkinan keterlibatan peserta dalam organisasi tertentu.

Ada pula satu pertanyaan yang cukup membuat saya terkejut:

“Apakah kamu kuat kuliah di sini? Kalau nanti tidak lulus atau DO, ada pengembalian uang beasiswa.”

Saya menjawab dengan tegas, tetapi tetap berusaha santai:

“Saya sudah mempersiapkan mental, Pak. Saya bisa melewati tes administrasi sampai tahap ini karena saya memang bersungguh-sungguh ingin kuliah sampai lulus.”

Wawancara dengan Ketua Program Studi

Kemudian saya masuk ke sesi wawancara dengan pewawancara kedua, yaitu seorang Kolonel dari TNI Angkatan Udara yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknologi Penginderaan.

Wawancara dengan beliau sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris.

Pertanyaannya lebih banyak berkaitan dengan wawasan saya mengenai Teknologi Penginderaan.

Beliau juga meminta saya menjelaskan isi paper yang telah saya buat.

Saya menjelaskan berbagai argumen yang saya tuliskan dalam paper, mulai dari pengertian teknologi penginderaan, alasan memilih Teknologi Penginderaan, hingga pemanfaatan teknologi penginderaan dalam bidang pertahanan.

Semua saya jelaskan dalam bahasa Inggris karena pertanyaan beliau juga menggunakan bahasa Inggris.

Namun, tidak semua pertanyaan dalam bahasa Inggris saya jawab menggunakan bahasa Inggris.

Ada satu jawaban yang justru saya sampaikan dalam bahasa Arab. hmmm

Ketika beliau mengatakan, “Your English TOEFL is quite good,” saya menjawab:

“Alhamdulillah.”

Wawancara dengan Pewawancara Ketiga

Pewawancara ketiga lebih banyak menanyakan latar belakang pribadi dan pengalaman saya.

Mulai dari latar belakang keluarga, pengalaman organisasi, hingga prestasi yang pernah saya capai selama kuliah S1.

Beliau juga menanyakan mengenai riwayat kesehatan.

“Pernah sakit terakhir kapan? Terakhir dirawat kapan?”

Saya menjawab bahwa terakhir kali dirawat adalah ketika berusia sekitar empat tahun karena DBD.

Kemudian beliau bertanya apakah saya memiliki penyakit bawaan.

Saya menjawab dengan jujur bahwa saya memiliki asma.

Beliau kemudian bertanya:

“Kalau kamu terkena udara dingin bagaimana? Nanti kan ada kuliah luar negeri?”

Saya menjawab bahwa saya sudah memahami kondisi tersebut dan dapat mengelolanya dengan melakukan pencegahan.

Saya juga ditanya mengenai hal yang membedakan Unhan dengan universitas lainnya.

Selain itu, saya ditanya mengenai moto Unhan dan diminta menjelaskannya.

Tidak terasa, wawancara akhirnya selesai.

Pewawancara pertama yang pada awalnya terlihat tegas akhirnya tersenyum.

Seperti wawancara pada umumnya, sesi ditutup dengan pertanyaan:

“Ada pertanyaan?”

Saya kemudian bertanya:

“Di Unhan ada UKM atau organisasi mahasiswa, Pak?”

Beliau menjawab:

“Ada lah! Masa tidak ada. Kamu mau masuk BEM, mau demo?”

Saya menjawab sambil bercanda:

“Hehe, tidak, Pak. Maksud saya, di sini ada UKM riset, Pak?”

Beliau menjawab:

“Ya ada. Riset pasti ada. Universitas Pertahanan masa tidak ada. Kamu tahu Tri Dharma Perguruan Tinggi?”

singkat cerita,

Wawancara akhirnya selesai.

Saya keluar dari ruangan.

Belum ada pengumuman mengenai kelulusan wawancara. Namun, panitia sudah meminta peserta mengukur ukuran baju, sepatu, topi, dan jas almamater.

Saya sempat berpikir, semoga ini bukan harapan palsu.

Kan tidak lucu kalau sudah mengukur jas almamater, tetapi ternyata tidak diterima.

Saya kemudian pulang dengan perasaan lebih lega. Karena wawancara ini sangat positif vibes. 


Pengumuman Kelulusan

Sekitar satu minggu kemudian, ketika sedang bermain panahan bersama teman, tiba-tiba ada pesan masuk melalui Instagram.

Pesan tersebut berasal dari mahasiswa Teknologi Penginderaan angkatan sebelumnya. BTW Sebelum wawancara, saya memang sempat bertanya mengenai prospek Program Studi Teknologi Penginderaan kepadanya.

Pesannya singkat:

“Hilman, kamu lolos ya. Selamat ya.”

Saya langsung membuka situs resmi Unhan untuk memastikan informasi tersebut.

Alhamdulillah, ternyata benar.

Saya dinyatakan diterima sebagai mahasiswa Universitas Pertahanan.

Setelah itu, saya berhak mengikuti pendidikan dasar bela negara selama kurang lebih satu bulan sebelum akhirnya memulai perkuliahan.


Penutup

Itulah cerita singkat perjalanan saya menuju Universitas Pertahanan.

Perjalanan tersebut dimulai sejak November 2017 dan berakhir dengan diterimanya saya sebagai mahasiswa S2 Unhan dan memulai diksar Belanegara pas Agustus, lanjut Mulai semester awal tahun 2018.

Di Unhan, mahasiswa tidak dapat sambil bekerja karena sistem perkuliahannya bersifat penuh waktu. Karena itu, bagi mereka yang sudah bekerja, pada dasarnya terdapat dua kemungkinan: mengundurkan diri dari pekerjaan atau mengurus surat izin belajar bagi CPNS/PNS.

Bagaimana kehidupan saya selama menjadi mahasiswa di kampus ini?

Nanti saja saya ceritakan. Namun, tidak janji juga akan cerita...


Share:

Selasa, 25 Oktober 2016

Renungan Anak Kost, apa yang terjadi puluhan tahun kemudian di sini?


Mungkin hari ini, saya dibuat keringetan sama ngeprin tugas yang menumpuk
Dibuat tertekan dengan UTS, UAS , responsi, atau kuis
Kalo Ulangan materinya susah, belajar 1 malem rasanya itu….Luar binasa
Belum lagi kalo ada rapat , aktivitas di Organisasi, presentasi
Dan Tugas Akhir …. Saya LELAH!!

Ngeprint tugas saat terik menyengat, keringat dan detak jantung…
Hidup Cuma dalam tekanan, untuk dapet nilai tinggi
Sangking pusingnya akhirnya saya coret saja tembok kosan
Rasanya lelah batin, pengen buru-buru pulang. Dan wisuda….
Tetesan airmata di saat sendiri
Adalah tanda rindu, terbayang makan bareng dengan keluarga

Tapi daripada memikirkan itu,
Lalu saya COBA RENUNGKAN puluhan TAHUN KEMUDIAN
Di Tahun 2030
Mungkin saya dan sebagian besar dari teman-teman mahasiswa sudah berkeluarga
Hidup bersama pasangan dan anak-anaknya
Mereka teman-teman terbaik saya waktu kuliah
 Tidak pernah saya temui lagi semenjak wisuda
Saat itu, saya mencoba kembali ke kampus
Saya pergi ke kampus
Naik tangga,,,,,Masuki kelas
Dan Hening
Cuma tersisa bangku kosong
Kenangan  lalu
Saat berkumpul bersama teman-teman di kelas
Seneng bareng, susah bareng, merhatiin dosen bareng-bareng
Sudah lenyap
Lalu saya pergi ke kamar kosan tempat dulu saya tempati
Sudah banyak berubah
Lalu penerus saya seorang mahasiswa tinggal di kamar kosan saya dulu
Mahasiswa angkatan 2030 
Sedang tiduran sambil maen HP
Buka laptop sambil bermain gitar
Persis mengingaatkan saya waktu dulu
Saat saya diizinkan masuk olehnya,
yang tersisa hanyalah coretan yang saya buat puluhan tahun yang lalu
Lalu saya pergi ke kosan temen
Cuma ada orang-orang baru
Tempat belajar bareng bersama teman2
Tempat belajar Fisika Dasar, Gelombang, Hingga Fisika Statistik
sudah diisi oleh MaBa yang juga belajar mati-matian
Semua kenangan, cuma membuat kita ingin kembali ke masa itu

Jadi anak kost, kendala utamanya kangen rumah.
Tapi puluhan tahun kemudian saat kita di rumah, ada rasa rindu dengan keadaan jadi anak kost.

Lalu kita kembali ke masa sekarang
Masa-masa sulit, lelah, sedih, takut, nyatanya bukanlah hal buruk.
Itu sensasi emosi yang sulit dilupakan di masa depan.
Sekarang mungkin mau cepet-cepet lulus dan kerja.
Tapi kenapa tidak menikmati masa 4-5 tahun ini sebelum akan kerja puluhan tahun?
Memanfaatkan waktu berorganisasi
Bermain, berinteraksi dengan teman-teman?
Masa yang singkat dan takkan terulang kembali sebagai mahasiswa, dan juga anak kos.



Share:

Rabu, 13 Juli 2016

Puisi: Apa kabar kuliahku?



Fajar di mata kiriku
Menggores cerita bersama kantuk dan pilu
Apa kabar semester tujuh?
Dimanakah letak sanubariku?
Apakah cerita ini akan mengalir?

Yang aku ingat
Saat papan tulis itu dicoret persamaan xyz bersama kartesiannya
Ataupun itu namanya yang disebut integral bilangan kompleks lipat sepuluh
Ajaib berubah jadi samsak
Rasanya ingin dipukul ditendang dibanting ataupun dihancurkan


Sajak-sajak dalam penurunan rumus
Bersama ilmu-ilmu yang mengukir jiwaku
Kusimpan untuk setiap kenangan
Apakah akan dikenang untuk masa depan bersama kemenangan?
Atau hanya akan jadi saksi bisu?


Share:

Senin, 11 Juli 2016

Puisi: Perpindahan Mahasiswa di Atas Bongkahan Baja


Purwokerto Jakarta
Jakarta Purwokerto
Dihubung kerikil juga baja
Lalu monas dan graha widiatama
Menyaksikan perjalanan si anak pendiam
Serta apapun yang kusebut petualang

Tersibak kisah antara kelam dan senang
Menuai ilmu untuk tenar ataupun kehormatan
Melingkari diri dalam lingkup almamater

Dalam kerlap kerlip cahaya yang menyinari padi
Aku bersyair dalam bongkahan gerbong
Yang berjalan saling relatif antara aku beserta kamu
Syair ini terlalu indah
Untuk manusia yang mati rasa

Mungkin
dada dipaksakan lelah menahan kerinduan
Hingga kebal terhadap emosi
Saat disini rindu disana
Saat disana akan rindu disini
Bagai hati terbelah dua


11 juli 2016

Share:

Selasa, 05 Juli 2016

Ke Puncak, Niatnya Jalan-Jalan malah Jadi Anak Pesantren.


27 Juni 2011. Gue masih di SMA. Belum ketemu temen-temen kuliah. Mungkin temen-temen kuliah mungkin gue masih pada sekolah juga. 

Siang terik abis selesai sekolah. Mumpung kantin sepi, gue ke kantin makan nasi goreng campur es teh. Waktu gue makan, datang si Abu. Dia dulu sekelas sama gue waktu kelas 10.   Tapi takdir memisahkan  kita di waktu kelas 11. Btw dia ini mantan ketua rohis sekolah gue.
Waktu itu dia dateng deketin gue. Trus dia nawarin gue jalan- jalan gratis. Kurang lebih kayak gini percakapannya
“Man, lu mau gak jalan-jalan gratis?”
”Ah yang bener lu bu?”
“Serius entar penginapan makan transportasi udah ditanggung, Kalo mau ntar gue daftarin”
Akhirnya, gue mau. Ya jelas, jalan-jalan ke puncak gratis segalanya, Siapa yang gak mau. Dan si Abu juga nyuruh gue ajak temen.
Akhirnya gue ajakin temen begadang gue di rumah, si putra. Si putra pun Mau ikut untuk “jalan-jalan gratis” ke puncak setelah gue ajak.
Trus beberapa hari kemudian, akhirnya tiba juga saat-saat jalan-jalan gratis.  Hari itu kebetulan lagi libur  sekolah karna anak kelas 12nya lagi ujian (gue waktu itu kelas 11). Gue sama putra jalan ke tempat kumpul. Waktu itu kumpul di masjid Al-Sofwa, di sana gue ketemu temen-temen sekolah gue, Abu, hafidz, Yogo(temen sekolah),  anak dari sekolah lainya, dan pastinya ada ustadz waktu itu. Dan entah kenapa kok gue ketemu sama anak rohis semua?

Sekitar jam 8 pagi, dari al-Sofwa berangkat naik bis ke puncak untuk rekreasi(niatnya).  Setelah beberapa jam, akhirnya sampe juga ke penginapan. Pas keluar bis, terasa udaranya begitu segar dan sejuk. Hamparan pohon indah terlihat dari atas. Bukit- bukit berjejer luas.

Abis sampe, kita langsung sholat bareng sama anak-anak yang lainnya di Masjid. Abis sholat, gue kira kita boleh maen jalan-jalan keluar, ternyata abis itu ada tausyiah. Abis tausyiah, dan ternyata gue di Masjid itu sampe jam 5 sore. Dan abis itu disuruh balik lagi ke masiid pas magrib. Gak ada waktu istirahat sebentarpun walau untuk tiduran di kasur. Abis itu Kita di masjid dari magrib sampe sekitar jam 11 malem. Bis itu tidur sampe adzan subuh. Waktu itu, enaknya mah tidur lagi. Rasanya berat walau sekedar untuk buka mata. Udaranya dingin puncak nusuk tulang.
Abis sholat subuh, acara dilanjutin baca quran bareng.  Waktu itu di suruh duduk melingkar. Suruh baca Al-quran satu-satu, gue sama putra bingung waktu itu, soalnya gue ma Putra  gak lancar baca al-Quranya haha. Sementara temen sekolah gue yang anak Rohis pada bagus-bagus bacanya, masya Allah.

Di bayangan gue, gue kira bakalan naek, gunung atau pergi rekreasi ke  air terjun. Si Putrapun sempet ngomong ”Man kita kok jadi ngaji?”
Gue diem ajja. Padahal gue sendiri juga gak tau kalo bakalan kayak begini. Iya, biasanya jam segini di rumah gue sama putra itu maen ps bareng sepuasnya, makan minum gitaran di rumah  seenaknya sendiri gak inget waktu.
Akhirnya acara baca quranpun selesai jam 8, gue seneng banget sekaligus ada rasa lega di hati gue. Abis itu gue ke kamar dan niatnya mau  tidur terus sampe siang seperti yang biasa gue lakuin kalo di rumah pas liburan. 15 menit kemudian, dari luar di ketok-ketok
”Ayo-ayo bangun ke kelas”, ustadznya manggil dari luar.  katanya singkat, tapi cukup buat semangat pudar seketika. Kalimat horor. Wkwk.
Gue sekamar sama abu, putra hafidz yogo. Gue sama putra berniat buruk, yaitu tidur lagi berjamaah.
“Ngantuk banget nih Gue.” Gue
“Iya nih, hil u mau tidur lagi ga?” Putra
“Kayanya iya nih”
“Serius? Kalo lu bolos gue juga bolos deh.”
“Iya deh cabut ajja”
Akhirnya gue sama putra gak masuk berjamaah. Sementara hafidz abu, yogo, dia gak terpengaruh ajakan setan. Dan juga ajakan gue.
Sebenernya gue juga agak takut ketauan.Tapi yaudah paling juga gak ketauan. Haha
Jujur ajja, sebenernya gue pengen banget cepet-cepet balik waktu itu.  Gue udah gak nyaman banget disana, mungkin bukan habitat gue disini.
Beberapa detik, menit, jam berlalu. Gue sama putra bangun dari tidurnya. Tidur yang sangat setengah memuaskan, setengahnya lagi ketakutan.


Inilah TKP gue bolos.



TOk-tok-tok. Ada yang mengetok, gue coba ngintip dari jendela.
“Siapa hil?”
“Abu dkk put”
Abu, hafidz, yogo balik lagi ke penginapan, dengan sedikit mengejek gue berdua.
“wah parah lu parah. Nanti masuk lagi ada materi lagi”
Untuk membalas semua kesalahan gue, dengan semangat gue bertekad masuk ke kelas untuk materi. Karna waktu itu juga udah jam 10.30, dan abis materi dilanjutkan makan siang. YA kali gak ikut makan siang. Maksud gue ikut materi.
Pas di kelas, gue sama putra duduk paling belakang. Materi yang disampein sama ustadznya susah banget,kebanyakan bahasa arabnya. Kayanya gue suram banget lah. Cuma planga-plongo dengan tatapan kosong.
“Put lu ngerti gak apa yang diomongin?”
“enggak”
“LU gimana sih put masa gak ngerti”
“emang lu ngerti hil?”
“enggak, udah santai aja, palingan bukan Cuma kita doang yang gak ngerti, mereka yang duduk paling depan juga belum tentu ngerti”
Selang beberapa waktu, diadakan sesi Tanya jawab. Ustadznya nunjuk orang. Dan apa yang gue lakuin sama putra?  gue sama putra ngumpetin muka. Udah kaya curut-curut yang mau diterkam sama mangsanya. Dan Alhamdulillah gue ma Putra gak ditunjuk, yang ditunjuk orang di barisan paling depan.
“haha palingan ga bisa jawab” putra nyeletuk pelan.
Beberapa menit kemudian, pertanyaan dijawab dengan cepatnya oleh mereka yang duduk barisan paling depan. Mereka jawab dengan bahasa Arab.
“Anjrit, jawabnya pake bahasa arab.” Putra nyeletuk kaget.
“Iya, kapan-kapan kita ngomong pake bahasa arab put.”

Materipun selesai. Sore-sorenya, adalah hal yang paling menyenangkan. Yaitu acara bebas. Ada yang maen bola, ada yang ngobrol-ngobol. Disana gue foto-foto sama putra ngalor-ngidul gak tau kemana.
Liat-liat pemandangan indah di puncak bogor. Untung waktu itu belum ada istilah selfie.
Besok kita bakal pulang. Malemnya abis sholat isya, semua anak ngumpul di masjid untuk maju satu-satu. Menyampaikan kesan-pesannya.
Yang paling inget, pastinya kesan dan pesan dari putra.
“yah, saya sangat senang sekali bisa ikut pengajian ini. Bisa dapet ilmu baru dan ketemu teman baru.
Pesan saya semoga bisa diadakan lagi acara ini.”
Lalu gue juga maju, nogmong jujur apa adannya.
”ya saya sangat senang, bisa ketemu teman baru. Dan juga bisa dapet pahala pastinya.  Saya juga mohon maaf, jika banyak salah. Jadi, ustadz, maaafin saya. Saya sama teman saya pernah cabut dari kelas waktu itu”
“wah…. Parah” orang-orang banyak sambil senyum.
Ustadznyapun hanya member senyum ngeliat pengakuan gue. Dan gue langsung balik duduk kembali. Yah kenapa gue ngaku cabut? Karna gue merasa bersalah. Gak bisa manfaatin fasilitas yang diberi oleh majelis itu.
Iya ,abis gue ngakuin itu, gue merasa lega. Gak perlu ada lagi yang dirahasiain.
Besoknya gue balik ke rumah. Rasanya seneng, tapi sedih juga.
Dan sekarang, tanggal 4 Juli 2016 tepat bulan Ramadhan. Sekarang udah kuliah di ujung semester 6. Udah 5 tahun yang lalu sejak masa SMA kelas 11. Masih gue inget momen itu. Rasanya mau balik lagi jadi anak pesantren sementara. Hehehe.
Dan ini adalah gue dan teman-teman gue waktu momen foto bareng, BTW gue yang motoin
Dan ini dia Gue, Khusus gue, udah gue edit mati-matian dan di paint, dan menjadi Foto profil terlama di FB, 1 tahun lebih



Share:

Senin, 04 Juli 2016

Puisi: Besitan Rindu


Share:

Sabtu, 14 November 2015

Puisi: Setia Hati untuk Ibu Pertiwi

Setiap tapak adalah kepedihan
Setiap jejak hanyalah kesakitan
Cerita remaj
a
Tentang ba
tu-batu ganjalan yang berterbangan
Disambar petir dan awan hitam
Emosi adalah di saat air hujan dibakar api
Melukis tanah dengan darah
K
emerahan mencorengkan wajahnya
Wajah ibu
pertiwi
cerai lukis air matanya yang terbuang
Lima sila hidup sebagai hiasan upacara
Karna lagu biru ada sebagai nyanyian wajib di jalan raya
Lagu penghiatan kepada
sila ke tiga
Menggambarkan kehampaan otak kalian saat  bernyanyi Garuda di Dadaku
Padahal Pancasila terdapat di dada sang garuda




A
ku anak rumahan pemandang jendela dunia
A
ku bosan dimakan kegundahan
Tapi diluar berisi
petir dan hujan
Berlomba dengan dengan jeritan kalian
Mendengar kata hati
Setia bukan sekedar setia
Sambil berkata-kata aku cinta pada Negeri
Setia bukan tentang mulut sekedar berkata-kata
Semua tentang kasih perjalanan
Inilah setia hatiku

K
ata guruku
B
uku adalah jendela dunia
Apakah masa depanku ada di balik buku?
Saat kubuka tirai jendela
Secerca harapan mengganggu sukmaku
Menghias mimpiku dalam menghias duniaku
Inilah setia hatiku

Duniaku
Tentang cerah wajah ibu pertiwi
Penghapus dan pena adalah sahabat terbaikku
Saat kubersihkan air matanya
Dan Menghias wajahnya menjadi pelita
Cerah senyumnya membawa pelangi
Dunia indah yang dihias hati
Inilah setia hatiku
Share:

Puisi: 1 Syawal

Kemenangan yang terlepas dari genggaman
Akan diganti dengan kemenangan baru
Kerinduan yang berlalu
 terganti dengan kerinduan baru
Rindu kemenangan
Setiap 1 Syawal
Hanya berharap :
“dosa-dosa  yang tertuang dalam lembaran kehidupan
Terhapus….
Suci seperti terlahir kembali”
Saya Hilman Putra Sandrika
Memohon maaf jika lisan dan perbuatan saya pernah menyakiti
Mari kita saling bermaafan
Karna setiap kata maaf yang berasal  dari hati
 adalah penghapus dosa-dosa
Agar kita bersama, lahir bersih dalam lembaran baru
Agar kita meraih kemanganan bersama
Aamiiin





Share: