Apa yang kupikirkan ketika sampai di Kalimantan?
Bukan tentang anakonda atau rimba yang jauh,
melainkan Kapuas yang mengalir tenang,
membawa bahasa Melayu, kehidupan,
dan cerita warga yang menyambung hari dari sungai.
Di sudut Pontianak, surau di bawah khatulistiwa
membuka pintu pada wajah kota yang sederhana.
Bahasa, tradisi, dan langkah-langkah manusia
menyatu dalam udara yang perlahan
membuatku ingin tinggal, meski hanya untuk memahami.
Lalu pikiranku berlayar ke masa yang telah lama hilang,
ke Pontianak ketika jejak Belanda masih membekas.
Bagaimana wajah kota kala itu?
Mungkin Kapuas telah menyaksikan semuanya
dan hingga kini, diam-diam, masih menyimpan ceritanya.






